BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang

Negara indonesia adalah negara suatu agraris (pertanian) dimana sebagian besar penduduknya hidup dan bekerja disektor pertanian, baik sebagai petani pemilik, petani penyewa, petani penggarap, maupun sebagai buruh tani.

Sebagai suatu negara agraris perlulah diperkirakan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penghasilan para petani dan sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat petani tersebut.

Untuk meningkatkan penghasilan para petani tidaklah semata-mata melalui peningkatan produksi saja, tetapi sistim pemasaran hasil petani merupakan hal yang pokok untuk diperhatikan.

Sistem pemasaran yang baik, efisien dan transparan tentunya akan menjamin tingkat harga yang layak bagi produsen (petani). Selanjutnya harga yang layak akan mendorong petani untuk meningkatkan usaha taninya melalui perluasan areal, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani yang bersangkutan.

Tetapi sebaiknya jika sistem pemasarannya tidak baik, tidak efisien dann tidak tranparan maka harga yang jatuh ketangan petani akan sangat rendah. Rendahnya harga yang jatuh ketangan petani tentu akan mengakibatkan dampak yang kurang baik bagi petani seperti mengurangi luas areal pertaniannya, mengalihkan usahanya kepada usaha pertanian yang lain, yang pada akhirnya produksi pertanian yang semula diusahakan akan menjadi berkurang.

Akan halnya dengan usaha tani jeruk di ’’Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan, Pagar batu, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara. merupakan usaha pertanian yang utama dan terus merus diusahai oleh sebagian penduduk didaerah ini.

Penelitian pendahuluan mengungkapkan bahwa usaha tani jeruk yang selama ini menjadi salah satu tumpuan kehidupan teryata sudah kurang berkembang bahkan banyak petani jeruk mengalihkan usaha taninya kejenis usaha lainnya.

Faktor harga yang relatif rendah adalah masalah pokok yang dihadapi petani jeruk di Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S). rendahnya tingkat harga ini tentunya sangat berkaitan dengan sistem pemasaran (Saluran tata niaga) yang berlaku maupun biaya produksi yang dikeluarkan petani.

Permasalahan diatas adalah hal yang cukup menarik untuk dianalisa sehingga tulisan ini diberi judul : “ANALISA PRODUKSI DAN SISTEM TATANIAGA JERUK DI PUSAT PELATIHAN PERTANIAN & PEDESAAN SWADAYA (P4S).

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas dapatlah dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bahwa pendapatan yang diperoleh Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya relatif rendah ?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui sistem pengusahaan pertanian jeruk di Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.
b. Untuk mengetahui sistem tataniaga pertanian jeruk di Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.
c. Untuk mengetahui pendapatan Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah :

a. Sebagai bahan pertimbangan maupun masukan bagi Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara. Khususnya system pengelolaan.

1.4 Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban atau masalah yang kebenarannya harus diuji terlebih dahulu.

Adapun hipotesis dalam tulisan ini dapat dibuat sebagai berikut :

a. Tingginya biaya produksi, sedangkan tingkat harga yang jatuh ke tangan Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S) relatif rendah.
b. Tingkat efisien pemasaran jeruk tergolong inefesien dimana pemasaran jeruk menepuh jalur tataniaga yang cukup panjang sehingga harga yang jatuh ketangan Pusat Pelatiham Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), mengakibatkan pendapatan relatif rendah.

1.5 Metodologi Penelitian

1. Desain Penelitian

Penelitian dirancang dengan metode studi kasus terhadap Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S),Agro Ihutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara
.
2. Ruang lingkup penelitian

Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah mencakup proses usaha tani dan proses pemasaran yang terjadi dan sedang terjadi.

3. Jenis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu :
Data primer dan data sekunder.

a. Data primer adalah Data-data maupun informasi yang langsung diperoleh penulis melalui wawan cara, pengisian Dafta questioner.

b. Data sekunder data-data yang telah dipublikasikan. Data ini diperoleh melalui studi perpustakaan

4.Sumber Data

Data-data yang diperlukan bersumber dari karyawan Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), petani pedangang (Toke), Instansi terkait baik berupa data lapangan maupun data kepustakaan.

5. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data adalah menggunakan:

a. Observasi, nyaitu melakukan pengamatan langsung pada lapangan.
b. Wawancara nyaitu melakukan pembicaraan secara langsung secara dengan respoden.

BAB II
URAIAN TEORITIS

2.1 Pengertian Produksi dan Fungsi Produksi

Istilah produksi bukanlah istilah baru pada saat ini, baik dalam perkataan sehari-hari maupun dalam istilah ekonomi. Dalam perkataan sehari-hari orang sering menggunakan istilah produksi sebagai pengganti perkataan menghasilkan. Pemakaian istilah seperti diatas sebenarnya tidak dapat disalahkan karena istilah produksi itu dapat juga diartikan dengan menghasilkan sesuatu. Jadi dengan demikian istilah produksi dalam perkataan sehari-hari diartikan sebagai usaha manusia dalam menghasilkan /menciptakan suatu barang atau benda dan jasa yang dapat dipergunakan manusia.

Akan tetapi walaupun istilah produksi itu dapat diartikan sebagai usaha untuk menghasilkan atau menciptakan suatu benda dan jasa, namun pada hakikatnya pengertian demikian tidaklah dapat diterima sepenuhnya sebagai pengertian istilah produksi dalam ilmu ekonomi.

Dalam ilmu ekonomi istilah produksi ini bukan saja diartikan sebagai usaha untuk menciptakan atau menghasilkan barang, benda, dan jasa, akan tetapi lebih dari itu yakni dengan sehubungan usaha manusia untuk meningkatkan ataupun menambah kegunaan atau faidah dari pada benda atau barang dan jasa tersebut sehingga dapat lebih berguna bagi kehidupan manusia. Dari keterangan-keterangan dapat dimengerti, bahwa sebenarnya istilah produksi dalam perkataan sehari-hari adalah berbeda dengan istilah dalam ekonomi, dimana perkataan sehari-hari produksi itu diartikan dalam arti yang lebih sempit, sedangkan dalam ilmu ekonomi produksi itu diartikan dalam arti yang luas.

Sampai sekarang ini pengertian atau defenisi tentang produksi masih belum terdapat kesamaan dari berbagai ahli ekonomi, tetapi dapat dikatakan bahwa berbagai defenisi pada hakekatnya adalah mempunyai pengertian dan tujuan yang sama, seperti misalnya ahli ekonomi Mayers mengatakan: ‚’’ Produksi adalah usaha manusia yang dapat menambah kefaedahan dari barang ataupun jasa yang mengandung faedah’’. Dari pegertian ini dapat dikatan bahwa pengertaian produksi ini ditekankan pada usaha manusia untuk menambah guna suatu barang, sedangkan pengertian yang labih luas tentang produksi, mengatakan ;

‚’’Produksi meliputi segala kegiatana yang memenuhi kebutuhan hidup baik secara langsung maupun tidak secara langsung. (Prof.DR.Sumitro, 1998:24-25). Barang dan jasa-jasa yang memenuhi kebutuhan mempunyai faedah. Maka produksi dapat dipandang suatu proses untuk menghasilkn faedah bagi kebutuhan manusia.

Dengan memperhatikan kedua defenisi produksi tersebut maka dapatlah dilihat bahwa pengertian tersebut mempunyai arti yang bersamaan, dimana pengertian produksi tersebut adalah meliputi hal-hal yang berikut :

1. Usaha untuk menciptakan barang dan jasa guna keperluan hidup manusia.

2. Usaha mempertinggi atau menambah nilai dari suatu barang dan jasa sehingga lebih berguna bagi kehidupan manusia.

Dengan demikian bahwa yang dimaksud dengan produksi itu adalah segala kegiatan usaha untuk menghasilkan barang-barang atau jasa – jasa guna untuk memenuhi kebutuhan, baik yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung.

Segala jenis usaha-usaha yang ditunjukkan untuk menambah nilai dari pada benda yang dinamakan produksi teknis. Dalam produksi teknis tidak menjadi persoalan apakah usaha yang dilakukan tersebut mendapatkan keuntungan atau tidak.
Kemudian setiap usaha manusia didalam mencapai kemakmuran selalu memerlukan adanya pengorbanan. Apabila pengeluaran yang dikeluarkan dalam usaha produksi itu lebih rendah dari hasil produksi yang diperolehnya, maka produksi itu dinamakan produksi yang ekonomis.

Didalam uraian terdahulu telah dijelaskan produksi adalah segala sesuatu kegiatan usaha untuk menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa guna memenuhi kebutuhan, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam proses produksi dipergunakan beberapa input dan jasa untuk diolah menjadi barang jadi.

Mubyarto dalam bukunya pengantar ekonomi pertanian mengatakan bahwa fungsi produksi ialah : „“ Suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara produksi fisik (Output) dengan faktor-faktor produksi (Input)’.(1998:58).

2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi

Didalam menghasilkan suatu produksi atau output diperlukan kerja sama antara faktor-faktor produksi sekaligus.

Dalam bidang pertanian masalah yang sulit adalah bagaimana para petani dapat mengkobinasikan faktor-faktor produksi tersebut seefisien mungkin guna mencapai output yang semaksimal mungkin.

Pada umunya yang menyangkut kombinasi faktor produksi dalam pertanian terdiri dari:
1.Faktor produksi alam/tanah.
2.Faktor produksi modal
3.Faktor produksi tenaga kerja
4. Faktor produksi organisasi

Ad.1. Faktor produksi alam / tanah

Keadaan alam khususnya tanah dipengaruhi luas tanah, butuh tanah yang keadaan alam nyaitu iklim. Sumber-sumber alam merupakan kegiatan disektor pertanian, hewan, perikanan, dan sektor pertambangan ini lazim disebut produksi primer.

Dalam pertanian terutama negara sedang berkembang seperti halnya negara indonesia, tanah sebagai pemberian alam mempunyai kedudukan yang amat penting dimana, tanah sebagai salah satu faktor produksi adalah merupakan hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan dari mana hasil produksi dikeluarkan (Mobyarto, 1998:76). Selain dari pada itu, pentingnya kedudukan tanah terbukti dari balas jasa yang diterima oleh yang cukup besar dibandingkan dengan faktor-faktor produksi lainnya.

Tanah merupakan suatu faktor produksi seperti misalnya modal dan tenaga kerja dapat pula dibuktikan dari tinggi rendahnya balas jasa (sewa bagi hasil) yang sesuai dengan permintaan dan penawaran tanah itu dalam masyarakat dan daerah tersebut. Dalam suatu daerah yang penduduknya sangat padat, dimana jumlah para petani penggarap yang memerlukan garapan yang jauh lebih besar dari pada persediaan tanah yang ada, maka pemilik tanah dapat meminta syarat –syarat yang lebih berat jika dibandingkan dengan daerah dimana persediaan tanah garapan luas.

Disamping adanya kemungkinan-kemungkinan pemilik tanah akan memilih atau menyewakan tanahnya kepada petani yang sanggup menawarkan bagi hasil yang menarik atau pun pemilik tersebut dapat pula memilih petani menyekap yang lebih rajin dan lebih memajukan kesanggupan dan kesungguhan dalam mengerjakan tanah. Keadaan yang demikian ini menyebabkan penyekap tanah akan selalu berusaha tidak mengecewakan pemilik tanah supaya tanahnya dicabut kembali. Jelaslah disini bahwa tanah tidak berbeda dengan modal biasa yang selalu dicarikan hasil yang tertinggi oleh pemilikknya.

Tidak benar kalau ada anggapan yang menyebutkan bahwa tanah bukan faktor produksi, hanya karena tidak banyak terjadi jual beli dan pemindahan hak miliki tanah.

Kemudian ada kemungkinan bahwa sebidang tanah tidak secara langsung dicapai oleh sipemilik tanah tersebut sebagai modal untuk berusaha tani, akan tetapi para pemiliknya menggunakan sebagai alat untuk mencapai kredit atau membayar hutang-hutangnya dalam hal ini digunakan sebagai angunan atau jaminan.

Akan tetapi sebagai faktor produksi, tanah mendapat bagian dari hasil produksi karena jasanya didalam produksi tersebut. Pembayaran atas jasa ini disebut sewa tanah (Rent). Soal sewa tanah ini banyak mendapatkan perhatian dari para ahli ekonomi, seperti : David Ricardo seorang ahli kebangsaan inggris, melalui tentang sewa tanah yang diffrensial, ditunjukkan:

„tinggi rendahnya sewa tanah adalah disebabkan oleh perbedaan kesuburan tanah, makin subur tanah makin tinggi sewa tanah, apapun itu dapat naik atau turun mempunyai

hubungan langsung dengan harga pokok komoditi yang diproduksikan dari tanah tersebut (Mubyarto 1988:77).

Dengan demikian besarnya permintaan atas hasil-hasil pertanian dan semakin banyaknya petani yang berlomba-lomba dan sering untuk berusaha tani karena semakin banyaknya penduduk, maka sewa tanah akan semakin tinggi dan karena persediaan tanah adalah terbatas. Dengan semakin bertambahnya penduduk maka kedudukan tanah sebagai faktor akan semakin tinggi nilainya terutama tanah sebagai tempat memproduksi bahan sehari-hari, tempat pendirian bangunan rumah serta alam yang menyediakan air. Sehingga dengan demikian bahwa alam atau tanah merupakan faktor produksi yang sangat penting.

Ad.2. Faktor produksi modal (Capital)

Modal adalah faktor produksi nomor dua yang sangat penting dalam produksi pertanian dalam arti sumbangannya pada nilai tersebut. Dalam arti kelangkaannya bahwa peranan faktor modal lebih menonjol lagi. Itulah sebabnya telah disebutkan diatas, bahwa kadang-kadang orang mengatakan modal satu-satunya milik petani adalah tanah, disamping tenaga kerja yang dinilai rendah.

Pengertian modal disi bukan arti kiasan, yaitu barang atau apapun yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan petani dalam hal ini tidak lain adalah untuk mempertahankan hidup keluarganya, dimana hidup para petani bergantung kepada pertanian dan modalnya adalah tanah. Demikian halnya dengan uang adalah merupakan faktor utama dari modal, karena uang itulah yang merupakan alat untuk memperoleh segala sesuatu yang diperlukan untuk menghasilkan produkski tersebut.

Modal para petani yang berupa modal luar tanah adalah ternak beserta kandangnya, banyaknya alat-alat pertanian lainnya pupuk, bibit, hasil panen yang belum dijual, tanaman yang masih diladang dan lain-lain. Dalam pengertian yang demikian, tanah dimasukkan sebagai modal. Bedanya adalah bahwa tanah merupakan modal yang tidak dibuat manusia, tetapi diberikan alam.

Perbedaan lain adalah karena tanah tidak dibuat manusia maka persediaan tidak mudah atau tidak mungkin ditambah. Sedangkan modal tidak demikian. Akhirnya dalam harga, harga tanah dapat naik tanpa batas. Padahal modal ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Kalau permintaan akan suatu barang modal naik terus-menerus, maka harga terdorong naik. Kenaikan harga itu menaik pengusaha untuk menambah produksi barang-barang modal itu sehingga penawaran naik dan akhirnya harga akan turun kembali.

Karena modal menghasilkan barang-barang baru atau merupakan alat untuk memupuk pendapatan maka ada minat atau dorongan untuk menciptakan modal.

Salah satu masalah yang sering dihadapi petani pada Negara – Negara sedang berkembang seperti halnya Indonesia adalah kurangnya modal yang dimiliki para petani tersebut. Kurangnya modal yang dimiliki para petani yang akan dipergunakan usaha

pertaniannya akan mengakibatkan hasil yang diperolehpun tidak dapat berkembang. Seperti kurangnya modal dan pembelian pupuk, pestisida, dan alat-alat serta produksi lainnya. Dengan demikian bahwa modal mempunyai hubungan yang sangat erat dengan produksi pertanian.

Memang ada diantara para petani yang dapat memenuhi keperluan modalnya untuk usaha taninya dari kekayaan yang dimilikinya, bahkan petani kaya dapat meminjamkan modal kepada petani yang memerlukan. Dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa modal pertanian dapat berasal dari luar tersebut dengan kredit-kredit bagi para petani mempunyai peranan yang sangat strategis karena:

„“Pentingnya peranan kredit disebabkan oleh kenyataan modal merupakan faktor produksi non alami (buatan manusia) yang bersedianya masih sangat terbatas terutama dinegara-negara sedang berkembang. Lebih kemungkinan yang sangat kecil untuk memperluas tanah pertaniannya. Disamping persediaan tenaga kerja yang berlimpah, diperkirakan cara yang paling tepat untuk memajukan pertanian dan meningkatkan produksi dengan memperbesar penggunaan modal.

Prinsip inilah yang menjiwai pemerintah Republik Indonesia untuk menciptakan modal para petani yaitu dengan cara penyediaan kredit yang disebut dengan krediBimas (Bimbingan Massal), yang realisasinya dilakukan u7ntuk usaha intersifikasi pertanian dengan penggunaan bibit unggul, obat pemberantasan hama, pemakaian pupuk serta investasi dibidang pengairan dan metode-metode lain yang membutuhkan modal lebih besar.

Ad.3. Faktor produksi tenaga kerja

Didalam menghasilkan sesuatu hasil produksi dibutuhkan tenaga kerja. Apabila sesuatu usaha ditujukan untuk menghasilkan suatu produk maka usaha tersebut merupakan tenaga kerja.
Pembicaran tenaga kerja sektor pertanian diindonesia harus dibedakan dalam usaha tani kecil-kecilan (Usaha tani rakyat). Dan persoalan tenaga kerja dalam perusahaan pertanian besar-besaran yaitu perkebunan, kehutanan, peternakan dan sebagainya. Perbedaan ini penting karena apa yang dikenal sebagai tenaga kerja dalam usaha tani tidaklah sama pengertian tenaga kerja dalam perusahaan perkebunan.
Dalam usaha tani sebagian tenaga kerja berasal dari dalam keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah, isteri dan anak-anak petani. Anak-anak umur 12 tahun misalnya sudah merupakan tenaga kerja yang produktif bagi usaha tani. Mereka dapat membantu mengatur pengairan, mengangkut bibit atau pupuk keladang serta membantu penggarapan tanah. Selain itu anak-anak dapat mengembalakan ternak atau menangkap ikan lain-lain yang menyumbangkan kepada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah.

dinilai dalam uang. Memang usaha tani dapat sekali-kali membayar tenaga kerja tambahan, misalnya dalam tahap penggarapan tanah baik dalam bentuk pekerjaan ternak maupun tenaga kerja langsung.
Peranan tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani sendiri memegang peranan penting tidaklah hanya didapati di Indonesia saja, bahkan di Negara-negara yang sudah maju pertaniannya, isteri dan anak-anak petani ikut aktif menyumbang pada kegiatan produksi. Kalau seorang petani mengalami kekurangan tenaga pada saat penggarapan tanah ladang, maka ia dapat minta tolong kepada tetangga dan familinya, dengan pengertian ia akan kembali menolongnya pada kesempatan yang lain. Dengan cara begini tidak ada upah yang harus dibayar, dan ini dapat menekan ongkos tenaga kerja.

Kaslan A. Tohir mengatakan:
“Bahwa di indonesia tolong menolong ini lebih banyak terdapat pada tanaman padi dari pada palawija. Ini berarti bahwa tolong menolong memang benar lebih banyak terdapat pada pekerjaan dimanan dimungkinkan pengembalian pekerjaan yang sama pada tanaman yang sama.

Didalam usaha tani, tenaga kerja adalah salah satu factor produksi yang utama, maksudnya adalah mengenai kedudukan si petani di dalam usaha taninya. Dimana petani di dalam usaha taninya itu tidak hanya menyumbangkan tenaga kerja saja, tetapi lebih dari itu. Dia adalah pemimpin Manager yang mengatur organisasi produksi secara keseluruhan. Ia memutuskan berapa pupuk yang akan dibeli dan digunakan. Berapa kali tanah dibajak dan diratakan, berapa kali penyiangan dilaukan. Jadi jelas bahwa kedudukan tenaga kerja adalaha sangat penting dalam usaha tani.

Ad.4. faktor produksi organisasi

Dalam uraian diatas diterangkan berapa pentingnya kedudukan faktor produksi alam, tenaga kerja dan modal. Maka faktor produksi organisasi berfungsi sebagai pengorganisasian dari ketiga faktor produksi lainnya sehingga terdapat pengolakasiannya yang tepat.

Pentingnya kedudukan faktor produksi organisasi dalam pertanian maka dengan berdasarkan risetnya di indonesia berpendapat sebagai berikut:

“Produksi pertanian di indonesia sebenarnya dapat dinaikkan dengan tidak perlu menambah faktor produksi yang sudah ada yang diperlukan hanyalah perubahan. Dala pola penggunaan sumber-sumber atau faktor-faktor produksi yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud disini adalah pengetahuan petani dalam organisasi dan manajemen usaha tani atau yang tercakup dalam modal manusiawi dan bukan dalam modal fisik.

Jumlah dan kebutuhan manusia pada dasarnya tidak terbatas. Untuk memenuhi ini, maka manusia memerlukan barang-barang dan jasa-jasa. Barang dan jasa ini dapat diperoleh dengan usaha dan pengorbanan, agar itu dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya dan seekonomis mungkin. Maka semua faktor-faktor produksi harus dipergunakan dengan pertimbangan yang setepat mungkin. Dengan perkataan lain untuk

mencapai sesuatu hasil dengan sebaik-baiknya diperlukan suatu organisasi yang baik, teratur dan terpimpin agar tujuan yang telah digariskan dapat dicapai dengan baik.

Petani dalam usaha tani disektor pertanian tidak hanya mengembangkan tenaga saja tetapi dia adalah merupakan pimpinan (Manajer) yang mengatur usaha taninya secara keseluruhan. Oleh karena itu peranan petani sangat penting. Karena dilapangan dialah yang mengatur, mengorganisir dan merencanakan sesuatunya yang berhubungan dengan usaha taninya. Jadi sebagai tenaga kerja dan dia harus memusatkan diri sebagai fungsi pimpinan dalam usaha tani tersebut.

Dengan demikian pimpinan harus mengorganisir, menentukan dan merencanakan alat-alat yang sehubungan dengan proses produksi dan faktor-faktor produksi lainnya. Jadi peranan organisasi disektor pertanian adalah sangat penting untuk meningkatkan hasil produksi demi tercapainya hasil yang memuaskan sebagaimana yang diharapkan bagi setiap petani tersebut.

2.3 Arti Fungsi Tataniaga dan Usaha Tani

Istilah tataniaga dinegara kita diartikan sama dengan pemasaran atau distribusi, nyaitu suatu macam kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyamapaikan barang dari produsen kekonsumen. „“Disebut tataniaga karena niaga berarti dagang, sehingga tataniaga berarti segala sesuatu yang menyangkut atau permainan dalam hal perdagangan barang-barang. Perdangagan itu biasanya dijalankan melalui pasar maka tataniaga disebut juga pemasaran ( marketing ).

Seringkali dikatakan bahwa tataniaga pertanian dinegara kita merupakan bagian yang paling lemah dalam mata rantai perekonomian atau dalam aliran barang-barang. Dengan perkataan yang demikian dimaksud bahwa efisiensi dibidang ini masih rendah, sehingga kemungkinan untuk mempertimbangkanmasih besar.
Ada tiga fungsi utama dari tataniaga yakni :

1. Pengangkutan
2. Penyimpanan
3. Pengolahan

Disamping itu ada fungsi yang lain yakni pembiayaan. Umumnya area pertanian jauh dari kota-kota besar tempat konsumen, karena itu pengangkutan sagat diperlukan dari daerah produsen ketempat komsumen.

Kemudian hasil pertanian hanya dipungut pada saat musim panen tiba, sedangkan konsumen membutuhkannya karena hanya pada saat musim panen saja. Misalnya produksi jeruk yang digunakan untuk sebagai sari buah minuman.
Jalan –jalan yang buruk, jarak yang jauh, alat transportasi yang kurang, cara penyimpangan yang kurang baik dan sistim pengolahan hasil yang kurang sempurna serta pembiayaan yang kurang, kesemuanya ini akan mengakibatkan sistim tataniaga tidak efisien, bahkan penekanan harga pada tingkat petani produsen. Sebaiknya jalan-jalan,

pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan yang baik serta pembiayaan dan pengolahan yang baik serta pembiayaan yang cukup dapat mencapai sistim tataniaga yang efisien.

2.4 Pegertian pemasaran dan strategi pemasaran produksi

a. Pengertian Pemasaran

Menurut william J.Staton pemasaran adalah:
„“Suatu sistem keseluruhan dan kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribuksikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.“ (Basu swastha,1996:5)

Pemasaran adalah suatu proses sosial dengan nama individu dan kelompok mendaptkan apa yang mereka butuhkan dan ingikan dengan menciptakan dan mempertukarkan prodak dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.

Menurut josep P.Guiltinan berpendapat bahwa: Strategi pemasaran adalah peryataan pokok tentang dampak yang diharapkan akan mencapai dalam hal permintaan pada dasar target tertentu.

Dari defenisi-defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pemasaran adalah merupakan suatu rencana keseluruhan untuk mencapau tujuan perusahaan.

Dapat dilihat bahwa strategi pemasaran merupakan salah satu pangsa pasar yang dipakai dalam menyususn perencanaan perusahaan secara menyeluruh. Perencanaan adalah suatu titik awal dari keseluruhan kegiatan perusahaan yang akan diikuti dengan langkah lainnya.

Perencanaan strategi pemasaran sangat perlu untuk dilakukan guna untuk mematangkan strategi pemasaran yang lebih lanjut dan siap untuk mengubahnya sesuai dengan perubahan zaman. Strategi pemasaran menjabarkan rencana permainan untuk mencapai sasaran perusahaan atau sasaran produk/pasar.

Menurut Philip Kotler dalam buku manajemen pemasaran Edidi keenam, jilid 1 bahwa strategi pemasaran adalah Logika pemasaran, dan berdasarkan itu, unit bisnis diharapkan untuk mencapai sasaran-sasaran pemasaranny. Strategi pemasaran terdiri dari pengambilan keputusan tentang biaya pemasaran dari perusahaan, bauran pemasaran dan alokasi pemasaran.
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam usahanya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba.
Menurut Philip Kotler

“Pemasaran merupakan suatu proses social dan manajerial dengan mana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk dan nilai dengan pihak lain“

Menurut William J.Stantor

“Pemasaran adalah suatu sistem local dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa-jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pemasaran merupakan suatu proses kegiatan yang terdiri dari perencanaan dan pelaksanaan konseption, penetapan harga, promosi dan distribusi barang dan jasa serta ide menciptakan pertukaran atau berusaha barang dan jasa dari produsen kepada konsumen atau kelompokan sasaran yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut.

Perusahaan juga harus memutuskan bagaimana cara mengalokasikan seluruh anggaran biaya pemasaran untuk berbagai alat dalam bauran pemasaran. Bauran pemasaran tersebut merupakan sebuah konsep kunci dalam teori pemasaran modern.

Bauran pemasaran adalah campuran dari variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk mengejar tingkat penjualan yang diinginkan dalam pasar sasaran.

Penetapan Strategi pemasaran dapat dilakukan perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pemasaran hasil produksinya meliputi 5 konsep strategi, yaitu

a. Segmentasi pasar
b. Market positioning
c. Market entry strategi
d. Marketing mix strategi

Ad.a. Segmentasi pasar adalah Tiap pasar terdiri dari bermacam-macam pembeli yang mempunyai kebutuhan, kebiasaan membeli dan reaksi yang berbeda-beda. Perusahaan tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan pembeli. Oleh karena itu, perusahaan harus mengelompokkan pasar yang bersifat heterogen tersebut ke dalam satu-satuan pasar yang bersifat homogen.

Ad.b.Market positioning adalah oleh karena perusahaan tidak mungkin dapat menguasai pasar secara keseluruhan, maka prinsip strategi pemasaran yang kedua adalah memilih pola spesifik pasar perusahaan yang akan memberikan kesempatan maksimum kepada perusahaan untuk mendapatkan kedududkan yang kuat.

Ad.c.Market entry strategi adalah penentuan saat yang tepat dalam memasarkan barang merupakan hal yang perlu diperhatikan. Meskipun perusahaan melihat adanya kesempatan baik menetapkan objective dan menyusun strategi pemasaran, ini tidaklah berarti bahwa perusahaan dapat segera memulai kegiatan pemasaran. Perusahaan harus lebih dahulu melakukan persiapan-persiapan baik dibidang produksi maupun dibidang pemasaran, kemudian perusahaan juga harus menentukan saat yang tepat bagi pelemparan barang dan jasa kepasar.

Ad. Marketing mix strategi adalah Kumpulan variabel yang dapat dipergunakan perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen. Variabel-variabel yang dapat mempengaruhi pembeli adalah yang disebut 7 P (product, price, Place, Promotion, participant, process dan people physical evidence).

2.5 Proses penetapan harga

Kebebsan manajer untuk memilih harga pokok atau jasa tertentu dihambat oleh beberapa faktor. Pertama, biaya perusahaan menentukan batas terendah dari harga yang wajar. perusahaan harus benar-benar yakin bahwa ia mampu menutup pengeluarannya dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dan bertahan hidup. Pada titik ekstrem yang lain, sensitivitas harga dari permintaaan terhadap produk atau jasa, menentukan batas tertinggi dari rentang harga yang bisa diterima. Diluar tingkat harga tertentu, sebagian besar calon konsumen mencari produk penggati yang lebih murah misalnya beralih ke merek toko atau tanpa membeli produk atau jasa tersebut.
Ada sejumlah cara untuk menghitungkan harga, tetapi cara apapun yang digunakan seharusnya memperhitungkan faktor-faktor situasional. Faktor-faktor itu meliputi :

1. Strategi perusahaan dan komponen-komponen lain di dalam bauran pemasaran.
2. Perluasan produk sedemikian rupa sehingga produk dipandang berbeda dari produk –produk lain yang bersaing dalam mutu atau tingkat pelayanan konsumen.
3. Biaya dan harga pesaing
4. Ketersediaan dan harga dari produk pengganti.

Berdasarkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan ketika menetapkan harga, yang pertama untuk dilakukan adalah ketika perusahaan memperkenalkan produk baru atau menyetujui serangkaian kontrak kerja nonrutin. Prosedur ini terdiri dari beberapa tahap yang melibatkan analisis permintaan, biaya, dan persaingan. Namun demikian, pertama-tama para manajer seharusnya menetapkan tujuan penetapan harga yang sejalan dengan strategi bisnis dan strategi pemasaran perusahaan.

2.6 Tujuan penetapan harga

Tujuan penetapan harga strategi seharusnya mencerminkan apa yang ingin dicapai perusahaan dari produk atau jasa di dalam pasar sasarannya. Apabila strategi bisnis, pasar sasaran, dan strategi penentuan posisi untuk produk semuanya didefinisikan dengan jelas,
maka merumuskan tujuan dan kebijakan-kebijakan bagi unsur-unsur program pemasaran –termasuk harga- menjadi relatif mudah.

Tujuan penetapan harga strategis antara lain :

1. memaksimalkan pertumbuhan dan penetrasi penjualan.
2. Mempertahankan mutu atau diferensiasi jasa.
3. Memaksimalkan laba

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Dari seluruh uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Jeruk adalah salah satu hasil pertanian yang bayak diusahai oleh para petani khususnya di Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S), Agro Ihutan. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini cenderung ditinggalkan oleh para petani dan beralih ke jenis pertanian lain.

2. Dilihat dari harga jeruk cenderung mengalami penurunan.

3. Berdasarkan analisis tataniaga jeruk teryata bahwa jeruk di Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya, Agro Ihutan tergolong tidak efisien, hal itu disebabkan panjangnya jalur tataniaga yang harus dilalui, sehingga harga yang jatuh ke tangan petani relatif rendah dari harga ekspor.

3.2 Saran

1. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak berkaitan dengan penerapan Strategi usaha pengembangan produksi dan pemasaran komoditi jeruk Di PUSAT PELATIHAN PERTANIAN & PEDESAAN SWADAYA (P4S) AGRO IHUTAN .

2. Diharapkan pemerintah dapat memberikan motivasi kepada para petani, dengan cara memberikan pembelajaran tentang pertanian khususnya komoditi Jeruk melalui penyuluh pertanian, memberikan batuan kepada para petani berupa pupuk, teknologi dalam pengolahan tanah dan juga memberikan bagaimana cara untuk memasarkan komoditi jeruk dengan baik. supaya tidak mendapatkan harga relatif rendah yang dapat merugikan PUSAT PELATIHAN PERTANIAN & PEDESAAN SWADAYA (P4S) AGRO IHUTAN.

3. PUSAT PELATIHAN PERTANIAN & PEDESAAN SWADAYA harus menerapkan/ menggunakan bibit unggul sehingga mampu memberikan produksi yang lebih besar.