SITI NURBAYA

Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka, anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang baik, tetapi keras hati
Ada Teman anak muda ini, ialah seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian! “Hm … Marilah Nur, naiklah, supaya lekas kita sampai ke rumah, sebab perutku telah berteriak minta makan,” kata Sam pula.
Kedua anak muda tadi lalu naiklah ke atas bendi Pak Ali dan segera berlarilah kuda Batak yang amat tangkas itu, menarik tuannya yang muda remaja, pulang ke rumahnya di
Kampung Jawa Dalam.
Nama gadis itu ialah Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang mempunyai beberapa toko yang besar-besar, kebun yang lebar- lebar serta beberapa perahu di laut, untuk pembawa perdagangannya melalui lautan. Anak ini pun seorang gadis yang cantik, serta baik hatinya. Sehingga ia disayangi oleh teman- temannya.
Dari hari ke hari Samsulbahri dan Nurbaya semakin akrab, karena mereka merasa orang yang seibu sebapa keduanya. Istimewa pula, karena mereka masing-masing anak yang tunggal tiada beradik, tiada berkakak. kedua remaja itu belumlah pernah bercerai barang sehari pun; boleh dikatakan makan sepiring, tidur sebantal. Namun mereka akan berpisah karena Samsulbahri harus berangkat meninggalkan kampong halamannya.
Pada saat itu juga Samsulbahri pulang kerumah dia melihat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seorang yang usianya makin sempurna kukuh dan sehat karena ia seorang yang mampu dan kaya sering disebbut datuk maringgit saudagar pedang yang termasyur kayanya, sampai kenegri-negri lain. Karena pada saat daintara saudagar-saudagar bangsa melayu dipandang tiada seorang pun dapat melawan kekeyaan datuk maringgit .
Siapakah yang tiada mengenal namanya? Sampai ke singapora dan melaka datuk maringgit diketahui orang tak ada seorang bangsa eropa dan cina arab dan atau keeling yang kay adan berpangkar dipadang yang tiada bersahabat dengan dia
Tak kala sampai kemuka gedung itu berhentilah Bendi Sultan Mahmud dan penggulu ini turun diatas kendaraanya, lalu naik keatas rumah ini dari jauh tekah nyata kelihatan gedung ini kepunyaan seorang mampu karena rupanya sederhana pekarangannya besar dan diupagar dengan kaayu yang bercak hitam. Pada ikeesokan harimya pukul 5 pagi samsul bahri terperanjak bagun dari tidurnya karena mendegar bunyi lonceng jam yang ada dirumahnya lima kali memukul.
Oleh sebab itu nyata bagi samsul hari baru pukul 5 pagi, direbahkannyalah kembali badanya keatas tilamya. Bukannya hendak tidur pula melainkan sekedar berbaring-baring menunggu hari siang akan tetapi ia gelisah akan pikirannya telah diguda oleh kenang-kenangan akan pergi bersukaan itu. Namun takkan sampailah ia keluar, kelihatannya oleh cuaca amat terang bukan karena sinar matahari melainkan karena cahaya bulan yang hamper tenggelam disebelah barat.

Samsul pergi kebilik kusir tuanya pak Ali lalu diketuknya pintu bilik ini samsul berkata pak Ali bagunlah hari telah siap . Sesudah mereka memersiapkan semua mulailah keempat anak muda itu mendaki gunung padang yang tingginya kira-kira 222m, ilah ujung sebelah utara gunung-gunung rendah yang memanjang desebelah selatan kota padang. Gunung padang ini adalah seabagi salajh satu padang bukit barisan itu yang mengenjur barat sampai ketepi laut kota padang. Ketika Nurbaya dengan teman-temannya sampai ketengah-tengah gunung itu pada suatu pendakian yang curam berkatalah ia sambil mencari batu besar tempat duduk. Tak lama kemudian mereka naik keatas lagi meskipun air keringat yang membasahi keringat mereka hanya mengundang suka aja bagi mereka berempat. Memang pemandangan datas gunung padang sangat elok karena dari sana, nyata kelihatan pertemuan antara daratan dan lautan sebagai garis putih yang terbentang dari kaki gunung padang arah ke utara. Nnur dan Samsu melihat dari atas gunung kebawah tak sesungguhya karena pohon-pohon kelapa itu hamper tak ada hingganya dan diantara setiap bukit barisan yang jauh menghijau sangat samar itu.
Setelah berapa lama mereka diatas gunung itu sambil memandangi kebawah siti dan samsul beradu pantun.
Yakni pantun itu berisi:
Pulau pandang jauh ditengah
Dibalik pulau angsa dua
Hancur badanku dikandung tanah
Cahaya matamu kuingat jua

Setelah berapa lama mereka beradu pantun, maka samsu mengucapakan jika rindumu itu tiada hendak hilang baiklah kuipur hatiku dengan pikiran yang begem, aku berada dijakarta itu untuk sementara hanya untuk menuntut pelajaran yang akan memberi kepandaian, pangkat dan gaji yang besar kepadaku.
Maka pikiranku tak boleh tergoda oleh yang lain, apabila telah sampai maksdukku itu kelak tentulah aku segera dapat pulang kembali kekampung halaman ini untuk bertemu dengan sekalian yang aku cintai.
Aku ada pantun
Jika ada sumur diladang
Tentu boleh menumpang mandi
Jika ada umur panjang
Tentu boleh bertemu lagi
Setelah berapa lama mereka diatas gunung maka bakhtiar dan arifin mengajak mereka pulang karena bakhtiar ketakutan karena ada orang yang dia bedel dari kejauhan maka mereka turun dari gunung nyatanya pak Ali telah lama menunggu mereka dibawah yang akan membawa mereka naik kuda.
Setelah mereka sampai dirumah masing-masing maka Sitinurbaya menceritakan pengalaman selama jalan-jalan keatas gunung bersama Samsu dan bakhtiar serta arifin berbagai suka-dan duka untuk mencapai keatas gunung samsu bahri berangkat kejakarta itulah awal perpisahan siti nurbaya dengan samsul sungguhpu kebesaran dan kesengan hatiku ini takkan seberapa lama tetapi tak mengapa karena sekarang kuketahuilah sudah bahwa engkaupun cinta padaku. Kini tiadalah sial dan prasangka lagi aku akan meninggalkan kota padang ini untuk menjelang negeri orang nurbaya! Kata samsul pula sambil memeluk nurbaya malam inilah malam yang sangat penting bagiku dan bagi kehidupanku dikemudian hari karena malam hari inilah aku mendapat cinta hatiku dan jodohku yang kurindukan siang dan malam selagi ada hayatku dikandung badan tiadalah aku lupa kepada malam it, yaitu malam yang memberi harapan yang baik bagiku kepada waktu yang mendatang itu saksiku nur kata samsu seraya menunjuk bulan dan bintang yang ada diatas langit tiadalah aku akan mencintai perempuan lain melainkan engkau seorang. Tiada perempuan lain yang akan menjadi istriku hanya engkaulah harapanku engekaulah mestika yang mendatangkan ketenangan dan kesentosaan atas diriku bila tiada engkau haramlah bagiku perempuan lain lalu diciumnya pula nurbaya.
Aku pun demikian pula sam, Tuhan Engkau saksiku tak ada laki-laki lain yang aku cintai yang ada dialam ini selainn daripada engkau. Engkau suamiku dunia akhirat.
Akhirnya pergilah ia kepada nurbaya lalu dipengangya tangan gadis ini berapa lamanya sebagai tak hendak dilepaskannya dadanya rasakan sesat menahan kesedihan yang timbul didalam hatinya karena perceraian ini sehingga tiadalah ia dapat berkata-kata lain daripada selamat tinggal nur… Mudah-mudahan lekas bertemu kembali lalu berjalan lah ia cepat-cepat naik kapal
Nurbayapun tiada pula dapar menjawab apa-apa melainkan selamat jalan sam selamat sampai kejakarta. Tak kala berbunyi meriam yang dipasang dikapal akan memberi selamat tinggal kepada teluk bayur, barulah nyata oleh nurbaya bahwa kapal itu telah membelok menuju kebarat. Disanalah teringat olehnya bagaimankah halnya kelak seorang diri dirumahnya.
Tiada berapa lama kemudian daripada itu hilanglah kapal ini daripada pemandangan nurbaya hilang dibalik bukit sikabau hanya asaplah yang masih tinggal tergantung di udara diatas air laut tak kala itu hilanglah pula segala penglihatan dan pendengaran nurbaya sebagai tempatnya berpijak dan tergantung badanya diawan-awan
Dikampung ranah dikota padang adalah sebuah rumah kayu beratap seng itulah rumah untuk Datuk Maringgit saudagar yang termasyur kaya dipadang. Harapan ingatan dan niatnya siang malang petang dan pagi tiada lain melainkan akan menambah harta bendanya yang telah banyak itu tiada berkeputusan dan tiada berhingga sekalian kekayaan dunia hendaknya janganlah jatuh pada orang lain melainkan pada dirinya sendiri sebelumnya . itupun agaknya belum juga puas hatinya. Makmurlah kehidupan bila tubuhnya tertutup dalam timbangan mata benda itu. Takut ia sakit dan mati karena tiada dapat ia bercerai dengan harta dunia ini.
Ingatlah, kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, kesenangan dan kesususahan, yang sekaliannya, datangnya daripada Tuhan Yang Maha Esa. Jika dikehendakinya, dengan sekejap mata, bertukarlah kekayaan itu menjadi kemiskinan, kemuliaan menjadi kehinaan, kesukaan menjadi kedukaan dan tinggilah yang rendah, kayalah yang miskin mulialah yang hina, dan tertawalah yang menangis.
Oleh sebab itu jangan sombong dan angkuh karena beroleh kekayaan, kemuliaan, kesenangan, dan kesukaan melainkan insyafiah, bahwa sekalian itu sekedar pinjaman yang setiap waktu boleh diambil kembali yang Empunya.
Tidak terasa tiga bulan Samsulbahri telah berangkat ke Jakarta, meninggalkan tanah airnya. Tiga bulan lamanya Nurbaya telah bercerai dengan kekasihnya, tiada melihat wajahnya dan tiada mendengar suaranya dan tiga bulan pula lamanya mereka tidak bermain-main dengan Samsu dan menunggu kakaknya ini.
Tak lama Samsul mengirim surat kepada Siti Nurbaya dengan segera engkau akan mendapat kabar pula daripadaku. Tolonglah sampaikan sembah sujud kepada orangtuamu dan orangtuaku serta salam lazimku kepada sekalian handai tolan, teman sejawat kita dan sambutlah peluk cium dari kekasihmu yang jauh ini.
Maka setelah selesai dibaca oleh Siti Nurbaya surat itu lalu diciumnya lalu diletakkannnya diatas dadanya, ke tempat jantungnya yang berdebar kemudian disimpannya dalam lemari pakaiannnya bersama sama dengan surat yang lain yang telah diterima dari kekasihnya itu.
Berapa lama Siti Nurbaya menulis surat balasan kepada Samsul dengan hati yang begitu sedih bahwa surat yang malang ini yang telah kutulis dengan airmata yang bercucuran dan hati yang sangat sedih lagi pedih terlebih daripada diiris dengan sembilu dan dibubuh asam, garam serta pikiran yang kelam kabut dan dating membawa kabar yang sangat dukacita kepadamu, barangkali akan memutuskan pengharapanmu yang kau amalkan siang dan malam dan walaupun rasakan putus rangaki jantung hatiku mengenang sedih dan duka nestapa yang akan menimpa engkau karena benar kabar yang malang ini. Akan tetapi kujagahilah juga diriku menulis surat ini, karena takut kalau engkau bersangka bahwa sesungguhnyalah hatiku telah berpaling daripadamu. Setelah Samsu membaca surat itu karena kertasnya rupa-rupanya penuh kejatuhan airmat, karena isi surat itu bahwa ayahnya akan dipenjarakan akrena terlilit utang, rumahnya akan disita serta barang-barang yang berharga kepunyaan ayah Siti Nurbaya.
Tak lama kemudian ayah Siti Nurbaya mengatakan bahwa Siti Nurbaya menjadi kunci dari masalah itu dimana Siti Nurbaya akan dijodohkan Datu Maringgit. Karena esoknya Datu Maringgit akan menagih segala utang piutang ayah Siti Nurbaya

Tanpa sengaja kulihjat ayahku akan dibawa ke dalam pennjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan cepat keluarlah aku dan berlutut jangan dipenjarakan ayahku biarlah aku jadi istri Dau Maringgit.
Mendengar perkataan itu, tersenyumlah Datu Maringgit dengan puasnya, dimana sebagai senyum seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya, dan terbayanglah sukacita serta hawa nafsu hewan kepada matanya, tiba-tiba memeluk aku sambil bertanya benarkah katamu itu. Maka ayah Siti nurbaya mengatakan sesuatu kepada Datu Maringgit “ sekarang barulah kuketahui bahwa kejatuhanku itu semata-mata karma perbuatanmu juga dengan berbuat pura-pura bersahabat karib dengan memperdayakan aku sampai aku jatuh ke dalam tanganmu dan harus menurut sebarang kehendakmu yang keji itu tetapi tak apalah Datu Maringgit Tuhan pasti melihat karena Tuhan itu tiada buta maka lambat laun tentulah engkau akan beroleh atas khianatmu ini lalu ayahmu masuk menuntun aku ke rumah maka sejak itu aku resmi menjadi seorang istri Datu Maringgit.
Setelah Samsul membaca surat itu direbahkannyalah dirinya di tempat tidurnya lalu menelungkup menangis tersedu-sedu mengingat nasib kekasihnya yang malang itu.
Setelah tigahari puasa dijalankan pada hari keempat masuklah sebuah kapal yang dating dari Jakarta ke Pelabuhan Teluk Bayur membawa beberapa murid-murid sekolah Jakarta yang asalanya dari Sumatera Barat mereka hendak pulang ke rumahnya mengunjungi orangtua dan handai tolannya, Karena bulan puasa sekolah Bumiputra tutup.
Beberapa hari kemudian ke rumah orangtuanya lalu berjabat tanganlkah ia dengan ayah dan ibunya dipeluknya lalu mereka bercakap-cakap dengan orangtuanya itu menceritakan pelajaranya di Jakarta. Bagaimanapula engkjau ini kata Sultan Mahmud masakan hakim menghukum orang dengan tiada semena-mena dan saat itu juga Samsul Bahri menjenguk ayah Siti Nurbaya yang terbaring sakit di bilik kamarnya maka Baginda Sulaiman berkata kemarilah kamu Samsu akan kuceritakan hal itu kepadamu karena penyakitku ini kian hari kian bertambah siapa tahu kalau besok-besok aku harus meninggalkan kalian semua. Sultan Mahmud kelihatan Baginda Sulaiman keluar dari biliknya Karena itu sangat terperanjak mendengar suara anaknya minta tolong sehingga ia bangun dari tempat tidurnya walaupun badannya masih lemah tetapi karena ia takut anaknya akan mendapat kecelakaan lupalah dia akan dirinya maka ia hendak turun ditangga gelap itu jatuhlah berguling-guling ke bawah melihat ayahnya itu Siti Nurbaya berlari dengan beberapa orang untuk menolong Baginda Sulaiman ketika diangkat nyatanya orangtua itu telah berpulang ke Rahmatullah maka menjeritlah Siti Nurbaya menangis tersedu-sedu dan dia jatuh pingsan.
Sudahlah, jangan panggil-panggil juga yang telah berpulang itu! Senangjkanlah hatimu dan doakanlah mudah-mudahan mereka selamat di kuburnya
Nur, kata Aliamah akan mengobati hatimu itu, mudah-mudahan bena, bukankah masih bayak kapal dilaut yang dapat mempertemukan engkau dengan dia? Setelah mendegar perkataan saudaranya itu maka siti nurbaya tertiur dalam pelukan alimah
Pada sore hari kedua perempuan ini pergi jalan-jalan dan saat itu juga ada lewat penjual kue-kuean dan Siti Nurbaya pun membeli beberapa wajik dan lemang dan tak lama kemudian Siti Nurbaya memakan lemang tersebut, lalu di aberkata kepada Alimah hay, mengapa lemang ini pahit gulanya? Tanya Nurbaya! Karena dia seolah-olah pening setelah memakan lemang tersebut maka dengan baik hati allimah menolong Siti Nurbaya dengan memijat-mijat kepala dan badan Siti Nurbaya namun Siti Nurbaya sudah terlena masih dipijit juga oleh Alima kepalanya sampai berapa lama lamanya ia takut adiknya itu akan terbangun pula karena kurang enak rasa badannya ketika berapa lama Alimah memijat Siti Nurbaya ia hendak tidur diperhatikannya maka adiknya itu namaun Siti Nurbaya tidak bernafas lagi. Namun menurut cerita Alimah Siti Nurbaya meninggal ketika dia memakan lemang yang beracun pada keesokan harinya tatkala samapai kabar kematian Nurbaya kepada Sitti Maryam yang sedang sakit keras di kampung sebelah terkejut ditinggalkan anaknya Samsu, tiba-tiba berpulanglah Abu Samsubahri ini sebab kabar itu sangat menyedihkan hatinya.
Pada hari itu kelihatanlah dua jenazah dibawa gunung padang. Kedua perempuan yang sangat dicintai Sansu ini dikuburkan dekat makam Baginda Sulaiman, Ayah Siti Nurbaya.
Melihat kejadian itu maka Samsu Bahri berencana untuk membunuh Datu Maringgit maka Samsu Bahri mengangkat pistolnya lalu menembak Datu Maringgit setelah itu juga rebahlah keduanya ke tanah. Datu Maringgit kena peluru pistol Samsulbahri sehingga ia menghembuskan nafas sedangkan Samsulbahri kena paranng Datu Maringgit sehingga dia mati.
Sepuluh tahun kemudian Seorang daripada mereka, berpangkat dokter dan seorang lagi, berpangkat opseter. Keduanya memegang seikat bunga dalam tangannya. Setelah sampai ke Muara, lalu mereka menyeberang sungai Arau dan mendaki Gunung Padang. Tatkala mereka tiba di tempat yang ditujunya, kelihatanlah di sana olehnya, lima buah kubur sejejer berdekat-dekatan. Kelima kubur itu sama besar dan sama bentuknya. Pada tiap-tiap kepala kubur ini, ada batu nisan dari marmer, yang bertulis dengan huruf air mas. Di kubur yang pertama tertulis “Inilah kubur Baginda Sulaiman, meninggal pada tanggal 5 Ramadan, tahun 1315”

Pada nisan yang kedua tertulis “Inilah kubur Siti Nurbaya, binti Baginda Sulaiman meninggal pada tanggal 5 Zulhidjdjah tahun 1315”.
Pada nisan yang ketiga tertulis “Inilah kubur Samsulbahri, anak Sutan Mahmud, Penghulu Padang, meninggal tanggal 5 Syafar, tahun 1326”.
Pada nisan yang keempat tertulis, “Inilah kubur Sitti Maryam, istri Sutan Mahmud, Penghulu Padang, meninggal pada tanggal 5 Zulhijah 1315.”
Pada nisan yang kelima tertulis “Inilah kubur Sutan Mahmud, Penghulu Padang, meninggal pada tanggal 8 Rabiulawal, tahun 1326”.
Kedua anak muda tadi, lalu menaburkan bunga yang dibawanya ke atas kelima kubur ini, terlebih-lebih ke atas kubur kedua dan ketiga, sedang air matanya berlinang-linang.