RENDRA PERAMPOK

Musim kemarau panjang membuat tanah dibeberapa desa kering kerontang. Sawah-sawah banyak yang tidak mendapatkan air. Keadaan in benar-benar menyiksa belum perna dirasakan oleh penduduk lemajang musim kemarau sepanas seperti ini, peristiwa perkutuk ini benar-banr sangat menggelisakan.
Di dukun honoketi beebrapa orang menginggalkan desa mengungsi ke kutagara. Pengungsian terpaksa dilakukan setelah penduduk desa dukun hosehu, sebuah daerah pendukunan yang berjarak tga dari honoketi di serang habah orangorang bergelimpagan dijalan mati.
Musim kemarau tiba-tiba menjadi musim kelaparan bagi rakyat lumajang, orang-orang desa mulai gelisah keresahan yang mengalir karena putus asa.
Satu dasawarsa tewat semenjak pemerintahan sultan agung. Selama ini keadaan musim berjalanseperti biasa, angina bertiup lembut, pergantian musim menjasdi serenja tahun seperti putaran rod pedati ketentaram telah menjadi alas kehidupan yang mengenangkan tetapi kini tiba-tiba semua berubah berbalik arah.
Ribuan bahu persawahan menjadi padang tandus yang mengerikan seekor burung bangau yang terbang mencari air ahirnya harus menyerah, jatuh ketanah, mati yah, kematian tiba-tiba menjadi sesuatu yang biasa bukan saja kematian yang disebabkan ketidakberdayaan melawan alam tetapi dibeberapa desa terjadi sesuatu yang selama ini tidak terjadi perampokan!
Kekerimgan kelaparan membuat orang menjadi lupa kepada agama. Kemiskinan membangkitkan kejahatan penderiatan merontokkan iman. Perampokan terjadi dimana-man. Boroma colah yang dahulu hidup sebagai petani sekarang bangkit kembali menjadi pencuri, garong, kesu mereka mencoba melawan kemiskinan menjadi kejahatan.
Diam-diam orang mengeluh sebuah keluhan panjang yang menyayat, ya, apa lagi yang bias dilakukan kecuali mengeluh disaat teriakan atau pekikan penderitaan tak bergema di meja para pemengang kekuasaan , orang-orang kecil rakyat tersingkir terharu biru hanya bisa mengeluh dan mengeluh sambil menelan sakit hati.
Beberapa orang lantas menghubungkan perjalanan musim dengan dosa.
Misalnya tentang keahdiran si kafir kulit putih di keluarga mataram, mereka yang membawa bala?
Pada tahun 1614 setahun sesudah Raden Mas Rangsang naik tahta , Adipati Surabaya mengadakan perlawanan dengan membuka hubungan dangang dengan kompeni. Sultan Agung marah , beberapa pertemuan terjadi sampai akhirnya adipati Surabaya berhasil ditaklukkan , ketika itu Sultan Agung dengan sengit menentang keahdiran kompeni di wilayah kekuasaannya tak sejimpit sengan pun tanah mataram direlakan diinjak kompeni.
Tetapi kini, selentingan kabar mengatakan Sultan agung membiarkan kompeni memasuki kutanegara. Kalau berita ini benar, mungkin saja kekhilafan Sultan Agung telah mempengaruhi semesta, sehingga alam beredar tak menentu msuim keamrau menjadi bertambah panjang
Kutuk alam kepada Sultan sudah diraskan oleh rakyat lumajang malah sudan terden\gar desa-eesus Sultan sudah menjual hutan serta beberapa tanah diperkebunan.
Tindakan Sultan Agung telah menimbulkan kereshan dikalangan bangsawan. Karena tidak setuju dengan kebijaksanaan rasa itu pula, prasena, seorang bangsawan madura mengangkat senjata melawan mataram. Kabar kemudian terdengar kabar senter sunan Giri Panepen telah dikeluarkan dari mataram karena menentang kebijaksanaan Sultan Agung ketidakpuasan terjadi dimana-man. Namun akhirnya rakyat jua yang sengsara. Toh demikian kesengsaraan rakyat lumakang merupakan kesengsaraan yang tidak bisa ia mengerti lebih dari pada misteri daripada penebus desa.

Sejak meninggalkan adipati lumajang wilayah lumajang ini seperti rumah yang kehilangan penghuni, kosong.
Keperngian raden Lesowo ke kutagara justru menambah teka-teki. Sudah beberapa bulan pati tertua adipati lumajang itu pergi namun sampai hari ini, sepotong berita tentang dirinya pun tidak ada kepergian raden lesoho akhirnya menjadi teka-teki apakah raden Lesoho tidak diresti oleh Sultan Agung untuk menggantikan kedudukan ayahandanya? Ataukah ada sebab lain sehingga ia tak kembali?
Kadipaten lumajang tampak muram diluar sepi tembok yang melingkupi kadipatan tidak sebersih dahulu beberapa orang yang bertuga s membersihkan kadipaten sering tampak duduk-duduk direndopo. Gairah hidup seakan ditelan sirna akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Kandang kuda yang terletak disebelah kadipaten kelihatan kosong. Empat ekor kuda kesannyangan almarhum adipati telah tiada, biantang- binatang itu mati satu-persatu semenjak msuim kemarau entah karena rumput yang tidak cocok entah karena sedih ditinggal pergi adipati lumajang tak taulah.
Sekarang para pekatik sering tampak duduk bersama-sama gladaag dan sarakedi tak ada lagi kehidupan didalam kadipaten kecuali senda gurau undasi diahalaman belakang.
Dingding kadipaten tidak bersih lima atau sepuluh tahun yang lalu dibeberapa tempat rumput menempel dan ada beberapa lapisan dingding yang rontok karena tua. Kolam ikan yang berada ditengah halaman belakang sudah lama kering dasar kolam yang berwana putih meranggas di dasar kolam. Rumput yang dahulu hijau, kini tampak colkat mati sungguh pemandangan buruk dalam pemandangan kehidupan.

Kalau ada kehidupan yang pantas dituliskan adalah sinat mata Raden Sudrajat, seorang laki-laki bebadan lesap. Cahanya matanya memancarkan sina gairah kehidupan yang seakan tak bakal padam. Musim kemarau tampak tidak mempengaruhi gairah hidup Raden Sudrajat kecuali kulit badanya menjadi hitam kehilangan seorang ksatria.
Raden Sudrajat berkata kepada ibundanya “ibundaku, adipati luamjang apakah paduka dalam keadaan sehat sejahtera?
“ baik-baik saja keadaanku “jawabnya” adipati danar. “apakah ibunda sudah benar-benar sembuh dari sakit?
“sudrajat anakku, apakah maksud dengan perntanyaanmu ?
Tanya nya adipati berkerut air mukanya”
“apakah ada sesuatu yang sangat yang harus kamu sampaikan?
Raden Sudrajat tidak langung menjawab melainkan dengan suatu rendah la menhhela napas”
Ada surat dati mataram “ katanya kemudian dari seorang saudagar sahabat ayahanda Almarhum”
“ apakah ia sebutkan kabr mengenai kakakmu legoho yang sedang berada dimataram?
“memang dimikianlah adanya tetapi bagaiman kesehatan ibbunda?”
“ apakah hubunganya dengan kesehatanku bagaimanakah keadaan lesoho?”
“ berita ini bisa membahanyakan keadaan orang yang sakit”
“ perasaanku tidak enak. Tetapi biarlah kamu sampaikan juga mengenai kakamu itu”
Raden Sudrajat menyembah ibundanya wajah lelaki itu murung namun kemurungan yang tetap memancarkan gairah hidup pealn-pelan ia membuka kertas kemudian membacakan surat untuk ibundanya.
“ dengan segala rasa hormat aku mengharapkan keadaan baik untuk keluarganya adipati lumajang, khusuny untuk anda , Raden Sudrajat yang aku hormati selanjutnya aku mohon maaf untuk berita yang harus aku sampaikan” Raden Sudrajat menarik nafas panjang sejenak ia memandang hanita dihadapnya ketika adipati tidak memberikan reaksi pemuda itu melanjutkan “ kakak saudara” raden lesowo di mataram membangun nama yang sangat meragukan martabat kelaurga. Hutangnya menumpuk sampai empat puluh ringgit sebab akibat dri perjudian di pelesiran. Kemudian beberapa waktu yang lalu ia menodai kehormatan seseorang istri bangsawan. Tentu saja bagsawan itu marah tidak mau menerima peghinaan keji itu ia menuntut bela tetapi bangsawan malang itu lekas ditikam keris oelh raden legowo
Nyai adipati mengerutkan keningia memperhatikan gerak bibir sudrajat. Pandangan wanita itu tidak percaya .
Biar saya selesaikan, ibunda , nyai adipati” kata sudrajat dengan secara penuh tekanan. Kemudian “ paduka sultan agung dimataram merasa tidak puas oleh keadaan itu dan segera memerintahkan kakak saudara untuk menghadap. Tetapi kakak saudara tetap melawan titah itu dan melarikan diri kedalam hutan. Kini kakak saudara menjadi orang buronan…?
“aduh, anakku”
“ kuatkan hati ibu,” kata sudrajat sambilmelipat surat ditanganya “ inilah ajaran untuk keluargakita”
Akhirnya dengan suara murung putus asa, ia berkata…. “ ia telah menodai nama almarhum babaknya” aku juga tidak bisa mengerti kenapa kakak bias lupa daratan serupa itu”
“ siasialah usaha untuk mempertahankan kejayaan keturunan adipati lumajang ‘ kata nyai adipati tanpa tekanan “ ia garis di harapan oleh rakyat kabupaten ini untuk menggantikan kedudukan untuk mendapatkan restu dan pelaran dari paduka sultan agung. Tidak didunga bahwa justru kini isa menjadi orang buronan. Rusaklah pula harapanku kini terhadapnya.
“maafkan ibu “ kata sudrajat dengan nafas tertahan. Sebenarnya aku telah lama memperhatikan bahwa hal semacam itu bisa terjadi. Ibu selalu menguji semangatnya yang bergelora. Ibu sangka itu api yang mengeloh kemajuan rupanya kini terbukti bahwa hutan api yang mengolah nafsu liarnya.

“ aduh, sudrajat, hutan kekliruan ibumu”
“ ibu, aku pun mempunyai semangat , tetapi semangat untuk berwaspada dan ibu selalu mengatakan bahwa semangatku adalah semagat orang yang tanpa prakarsa. Kecerdasan hanya ibu nilai dengan ngazek yang tidak disamakan dengan kecerdasan yang mampu memimpin serta keberanian yang hanya mampu bertahan tetapi tidak sebanding dengan keberanian seorang pelopor begitulah ibu selalu membandinkan diriku dengan kakak lesoho”
Raden Sudrajat berhenti bicara.
“ Maafkan aku Sudrajat Raden Sudrajat “ nyai adipati berkata dengan jika terpukul “ ternyata” ahaya maheka berkabut. tetapi kini kamulah anakku yang bisa aku harapkan untuk menyingkap kabut itu”.
“ Hujan tugas yang berat kata Sudrajat dengan nada datar “ namun aku merasa akan kuasa melaksanakan asal ibu benar-benar menaruh kepercanyaan kepadaku”
“ dengan sepenuhnya aku akan merestui kamu”
“ pertama-tama akan kita singkirkan dahulu sumber noda didalam kelaurga kita.
Oleh karena itu jangan lagi ibu akui dia abang patih ibu “ kata Sudrajat tegas “ sebiatkanlah dia”
Sudrajrat , adudh.’
“ Sikap ibu yang semacam inilah yang terbukti menjadi biang bencana. Ibu lemah dan tak punya pendirian .”
“ apakah aku harus menguruk putraku sendiri?
“ apakah ibu masih ragu di keadaan seperti ijni?”
“ biarpun busuk dia putraku juga”
“ aku memang sangat menyayangi”
“ kalau begitu demi kakak lesowo, biarlah punah saja keluarga kita”
“ Tuhanku, tuhanku”
Sesudah lama berpikir dengan suara bearat ia mengatakann keputusannya.
“aku akan nyatakan bahwa ia telah kehilangan bakuntuk menggantikan kedudukan ayahmu. Dan juga bahwa ia tidak boleh lagi menginjak tanah kabupaten lumajang”
“ itulah kebijaksanaan yang sekarang dibutuhkan.” Kata sudrajat dengan penuh kegembiraan.
“ Dadaku memang sesak rasanya, aku akan mundur dan kamu majulah menggantikan diriku , Sudrajat, putraku “
Selesai berkata, nyai adipati, sudrajat, putraku.”
Mampuslah kamu!”katanya mendesis. “ inilah raden sudrajat aku harus kaya. Kakak lesowo harus aku singkirkan sat fitnah. Ini harus aku sirnakan…?”
Dengan gemas raden Sudrajat merobek kertas ditanganya serpihankertas itu ia gemgam dan cita lelaki itu seakan melambung karena berhasil menggemngam kemenganan.
“ Ibuku akan segera mampus oleh kesedihan o impianku untuk merebut kedudukan ayahanda akan segera kesampaian. Kakakku terlalu totol. Ibuku terlalu lemah dan bertempur dalam kehidupan adalah kekanyaan bagi siapa yang ingin maju.”
Beberapa sultan agung melakukan semedi mencari petunjuk Tuhan di dalam menghadapi perlawanan adipati taklukannya belum lagi celaan sunan giri pare-pare karena sultan agung menerima seorang duta kompeni bernama de haen tinggal di istana taja di kerta semua persoalan ini menyebabkan sultan menolak kunjungan adipati yang hendak menghadap termasuk raden legowo.
Setiap hari raden lesoh menunggu. Hari serasa berjalan amat lambatmalam demi malam ia lewati dengan sangant meresahkan lebih-lebih ia mengingat ibunda di lumajang. Daya tahan yang hamper lumer hanya bisa diredakan oleh kesetiaan sahabat-sahabatya. Lelah itu tidak dapat membanyangkan bagaimana seandainya tak ada sentanu kesambi, rasmolo gender dan samyur.
“ jangan murung Raden kata sentamu sambil membelai-belai kerisnya.” Raden selalu bisa mengawasi keadaan dengan baik, jangan terburu nafsu !! tetapi keadaan ini benar-benar gawat jamilah hutang kita sudah empat puluh lima ringgit in bukan jumlah kecil. “ tetapi Raden toh sudah mengurus suroso untuk mengirim surat kepad ibunda di lumajang. Pertama, untuk memohon kiriman uang. Kedua, untuk menerangkan bahwa pertentangan dengan bangsawan di mataram adlaah pertentangan pendirian yang justru ddi sebabkan karena raden mempertahankan keutuhan rakyat tanahjah yang terancam oleh desakan perdangangan kaum kafir kulit putih.
“ namun hatiku tetap elipati oleh suatu kekwatiran yang aneh…”
“ apakah raden mulai gentar terhadap tekanan para senopati mataram?
“ya”
“ Selama sebelas bulan kita berada di sini baru dipanggil satu kali, “ sambung rasmono datar.
Raden lesowo hanya mendesah. Mata lelaki itu seperti memancarkan bahwa amarah yang ditahan kadang-kadang ia tak bisa mengerti tanpa kehadiranya baik. Lebih dari itu selama ini pengabdian ayahhanda adipati lumajang toh tidak bercacat celah.
“ingin betul aku punya sukup kesempatan utnuk menjelaskan pendirian guruku sunan giri parepare itu kepada raja.
Selesai berkata begitu raden lesoho bangkit kemudian meninggalkan shabat-sahabatnya. Langkah lelah itu halu hamper tidak terdengar pijakanya, namun siapapun mengtahui didalam langkah itu peperangan jiwa yang maha hebat.
‘ ia memang sebelumnya sepenuhnya bangkit dari tidurnya” lasmono berkata tanpa rekanan kamu tidak bisa meremehkan dia”
Kedudukannya memang sulit, “ lanjut kosambi bukanya ia takut ketengasan , tetapi memang ia menentang kekerasan. Apalagi ia harus berhati-hati didalam perjuangan dengan kekerasan dan juga ingin menaati ajaran sunan are parepare.”
Aku percaya mendekati perbaikan dengan orang lain jawab kesambi.
“percanyakah kamu bahwa panglima mataram diakabupaten yang kini jaya dan kaya raya itu akan suka rela menyerahkan kekanyaan mereka semata-mata karena mereka terharu melihat petani yang miskin dan kelaparan.

Apakah saudara prebo rela memberikan sebahagian harntanya untuk menebus kemiskinan di gunung kidul?
“ hal itu memang belum pernah terjadi.”
“ tidak pernah terjadi.”
“ raden legowo masih duduk bersila menatap karena rembulan didalam telaga ketika terdengar suara suroso memanggil namanya.
“suroso, kamu dating!”
“ ya, raden!”
“ baik raden malahan saya melihat pesantren yang dahulu raden dirikan di panging.?
“ bagas, bagaimana keadaannya?”
“ maju, raden , sangat maju.”
“ dan kini bagaimana keadaan ibuku?”
“ saya tidak sempat diperkenankan menghadap beliau salam keras. Ia tidak bisa menemui tamu surat raden diterima oleh adek paduka raden Sudrajat untuk diteruskan kepada ibu raden. Semua persaan raden disini sudah pula aku sampaikan.”
“ Apakah ibuku sudah cukup diberitahu untuk apa uang itu?”
“laporan saya kepada beliau melewati adik raden sudan selengkap-lengkapnya.”
“ dan tetap aku tidak dikirimi uang?”
“bagitulah kedengarannya raden…?”
“ aku tidak bisa mengerti ini “ keluh raden legowo seram.
“ saya pun juga diliputi perasaan yang tidak enanak
Raden legoto membaca lipatan pada kertas gulung yagn dibawa suroso. Wajah lelaki itu berkerut ketika membaca surat itu . garis-garis ketengan mulai berubah wajanh itu menjadi tejang-tejang kebiringasan yang lama terpendam perlahan – lahan mengalr ke urat wajahnya.
Apa ini artinya , “suara logowo mengeram seperti singa lapar. “ aku tidak bisa mengerti”

Tidak aku sangka “ dengan beram pula kertas itu di remas” kenapa ibuku bisa berubah sejauh ini?
Katanya geram dan kesabaran paduka raden legowo habis, sambil beranjak pergi ia banting surat itu ketanah dimana letak keadilan?
Apa yang sesungguhnya terjadi ? sentamu memulai percakapan.]
“ aku tidak tau , “ jawab suroso
“ apa isi surat itu”
“ mana aku tahu?”
“ apa yang dikatakan oleh ibunya?”
“ aku tidak bertemu dengan ibunya.” Jawab suroso masih bingung, “ beliau sakit keras”.
“aneh kata suroso.
“ benar-benar aneh. Aku sendiri tidak bisa memahaminya suroso menguraikan pekerjaanya.
“ aku akan baca surat itu, to sudah dibuang”
Kata kosamu sejenaknya sambil memungut surat itu kemudian membaca dan suara agak kers “ kepada putreku raden lesoko de mataram. Kelakuanmu di mataram sangat menggelisahkan hatiku. Caramu bertindak terlalu didorong oleh perasaan.
Sikapmu mempersulit kedudukan kadipaten lumajang dengan sengenap rakyatnya. Oleh karena itu aku sarnkan bahwa kamu bukan putraku lagi…”
“ edan! “ seru genika kaget”
“ memang sukar dimengerti “ samung senianu “ biarlah aku lanjutkan , “ kata kesambi” kemudian ia meneruskan membaca “ hak mu akan kursi kadipaten aku cabut dan aku larang kamu menginjakkan kakimu di wilanya kabupaten lumajang… sekarang aku sendirian yang memengan kekuasaan di kadipaten lumajang
“sukar dipahami komentar suroso lirih.
Tiba-tiba samsir muncul dari kengelapan berjalan sambil bersungut-sungut tangannya memengang pipi kananya.
“ celaka! Bagaimana ini kok begini jadinya
“ kenapa kamu”
“aku ditampar raden lesowo”
“Knapa kamu ditampar”
“aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku ditampar”
“ iya tetapi asal mulanya bagaimana?”
“tidak ada asal mulanya- aku kejar dia: raden apa yang akan raden lakukan ? trus tanpa menjawab apa-apa ia tampar pipi saya .. aduh..”
Seperti melihat hal yang lucu, serentak mereka tertawa. Padahari kelima belas lumajang melangsungkan penobatan lesoko sebagai adipati.
“ Disini aku duduk didalam kemenangan dirumah leluhurku sendiri mengalahkan kezliman sudan laksanakan dengan sedih aku menenangkan ibuku.
“ sayang sekali adek raden telah membunuh dia “ kata rasmono “ sehingga pengadilan tidak bisa dijalankan terhadapnya. Tetapi raden honngo attang telah berhasil kami tahan apakah yang akan kita lakukan terhadapnya?”
“ jadi raden telah mengangakat diri raden sebagai adipati lumajang tanpa restu sultan agung ?”
“ aku ambil hak ku untuk menjadi adipati lumajang berdasarkan hak menurut keturunan “jawab lesoko tegas aku tidak menentang kekuasaan agung tetapi aku berkewajiban untuk melindungi kehidupan hlayat lumajang.
Sikap raden memang nyata” kata honggo untuk kemudahan. Aku tidak bisa nerbuat lain kecuali melaporkan sebaikbaiknya kepada sultan agun di mataram “ terima kasih, raden”
Baru selesai legoho berterima kasih kelmatam kesambi muncul dari pintu pendopo besa.
“ raden saya dating menghadap sambil membawa seorang utusan guru raden sunan giri parepare.”
“silahkan”
“ raden adipati lumajang, “ kata utusan sunan giri parepare. “ sebelum raden duduk disitu ketika raden masih berada rntah dimaan , guru kita telah bertitah kepadaku kata beliau : berangkatlah kamu ke lumajang temuilah raden lesowo yang akan berhenti menjawab perampok dan berhasil duduk sebagai adipati lumajang setealh mengalahkan kezaliman anaknya.
“ janganlah hal itu dikwatirkan “ ketika legowo menjelaskan skiapnya “ aku tidak pernah mempunyai pikiran semacam itu”
“ selanjutnya beliau berpesan agar berwaspada terhadap perpecahan diantara bangsa sendiri satu pihak untuk meminta bantuan kekuatan asing ini benar-benar membuka kesempatan bagi kekuatan dangang asing untuk dating untuk menancapkan cakar di punggung rakyat kita “
“memang pandangan semacam itulah yang selalu aku junjung sebagai pesan guru yang paling berharga.”
“ demikianlah , sekarang telah aku saksikan terjadinya peristiwa yang telah dimumumkan. Maka menurut keyakinanku benar-benar tidak bisa di remehkan .”
“ Demikianlah kiranya , “ jawab legowo sependapat “sekarang marilah kita bersyukur sambil bersatu : allahu akbar! Allahu akbar!”

……….Sekian…….