“PERTEMUAN”

 

Embun pagi yang sejuk dingin sedang menyelimuti kota Bukittinggi. Sungguh pun hari sudah menunjukkan pukul tujuh, tetapi masih gelap juga karena kabut belum hilang adalah seakan-akan hendak menantikan cahaya siang, sinar matahari yang agak panas akan penerbangan dirinya. Itulah yang menghalangi penglihatan sehingga rumah-rumah yang dekat jalan raya terbayang anatara ada dengan tiada di ruangan mata, sedangkan orang-orang yang tidak jauh jauh berjalan dari diri, hamper-hampir tidak kelihatan.

Walaupun demikian sudah banyak juga orang yang keluar meninggalkan rumah tangganya menuju ke jalan besar, lebuh gedang dari Bukittinggi ke Padangpanjang ada yang hendak pergi menjalankan kewajibannya dan ada pula yang berjalan-jalan saja untuk menyegarkan badannya serta menambah kesehatan tubuhnya, tentangitu tentu kita semua telah mengetahui timur dan barat, utara dan selatan bahwa Bukittinggi ialah suatu negeri yang berhawa sejuk dan sehat di Sumatera, tempat orang dating dari segala pihak untuk menyehatkan badannya dan membersihkan pemandangannya. Kebun-kebun bunga yang cantik molek, ditumbuhi bunga-bunga berbagai warna yang sedap dipandang mata. Letak kotanya yang memberi nama “Bukittinggi” dan menyebabkan hawanya yang sejuk.

Gunung dua sekelamin, merapi dan singgalang elok bersih kelihatan jadi perhiasan Bukittinggi juga.

            Dari pintu Gapura Sekolah Raja keluarlah seorang muda, murid sekolah yang tersebut itu. Ia masuk kesitu dan terus naik ke atas rumah itu. Itulah rumah induk semangnya, bibi Radjiah, tempat ia makan minum sehari-hari.

            “Mengapa pagi benar engkau pulang sekali ini Masri?tanya Nurdin

“pagi?” sahut Masri,”pagi apa lagi ini! Hai sudah pukul tujuh tetapi sebab kabut hari masih gelap juga.”.

            “ya” ujar Nurdin pula, sekarang hari Minggu. Biasanya kalau hari Ahad engkau pulang pukul delapan. Entah…kalau tak ada berada ada masalah…?”

            :ah, kamu ini macam-macam saja” jawab nasri dengan seyumnya . “ nasi sudah masak? Saya hendak makan dahulu sebab saya akan pergi kekampung dengan kereta api pukul delapan ini. Bengitulah kehidupan nasri sehari-hari, dia bayak merasakan pahit getirnya kehidupan untuk sekolah.

            Selama dalam perjalanan menuju kampong nasri bayak pengalaman dia sempat menolong orang yang bernama “aisa”karena wanita itu kehilangan uang sehingga pulang kekampung ke Payakumbuh ongkosnya tidak ada karena wanita itu kena cobot ketika berada di loket, sungguh baik sekali Masri untuk menolong orang tersebut.

            Tak lama kemudian Masri telah di kampungnya di Tanjung Alam tidak lama kemudian di ruang tengah dekat jendela duduklah Datuk Perpatih Bapak Masri, sedang bercakap dengan Ibu dan mamaknya. Nusi sudah terbidang dengan gulai serta lauk pauknya.

            “apakah sebabnya Masri belum tiba juga?” Tanya bapak Masri kepada ibunya. “boleh jadi tidak diterimanya surat kita yang semalam atau sudah habis pula uang belanjanya. Maklumlah di Bukittinggi banyak tempat menghabiskan uang gambar hidup diwarnai setiap malam apalagi sekarang kabarnya sudah dating pula  komidi bangsawan kesana” kata ibu Masri.

            Sejak asyik berbincang-bincang Masri telah sampai di rumah, sebenarnya dia pulang karena ada hal yang ingin berbincang-bincang Masri telah sampai di rumah, sebenarnya dia pulang karena ada hal yang ingin disampaikan pada Bapak Ibunya tak lama dia ucapkannya pada bapak dan ibunya oleh sebab itu dari sekarang hamba-hamba minta kepada bapak dan mamak. “ijinkanlah hamba memutuskan pelajaran hamba ke sekolah itu. Supaya boleh hamba berusaha dengan sekuat-kuat tenaga hamba dari kini. Kalau hamba akan berusaha pula disana sedapat-dapat dan alangkah senangnya kehidupan hamba kelak bila hamba menjadi guru yang bergaji besar.

            “selama hamba bersekolah disitu hamba akan berhemat sekolah, bolehnya supaya jangan payah benar Bapak membelanjai hamba. Lima rupiah saja bapak Bantu sebulan sudah cukup sebab murid-murid disana dapat bantuan juga dari Gubernomen setiap bulan bapak ijinkanlah hamba pergi ke sekolah kesana.

Datuk Perpatih pun berpikirlah seketika sambil membakar rokoknya yang telah padam semenjak tadi. Sedang ia mengirup dan mengembuskan asap rokoknya, pikirannya dijalankannya juga memikirkan niat dan maksud anaknya itu.

Tak lama kemudian bapaknya menyahut

“saya dan ibumu sudah tua, hamper hampir tidak kuat lagi bekerja, mengerjakan sawah lading kita. Kami berusaha untuk mencarikan  belanjamu dalam enam tahun ini, sudah peluh ke tumit. Selama kamu masuk sekolah raja, tak air telang dipunsung, tak kayu jenjang di keeping, kami penuh segala keperluanmu. Sekarang karena kamu sudah besar supaya kamu tahu bagaimana kehidupan orangtuamu, biarlah saya berbicara dengan terus terang, buka kulit ambil saja.

            Hancur-luluh, laksana kaca terempus di batu hati Masri mendengarkan perkataan bapaknya itu. Bermacam-macam pikiran dating menggodanya terpikir olehnya, bagaimana malam untungnya diatas dunia ini. Sudah tetap hatinya hendak melanjutkan pengajarannya ke sekolah guru tinggi itu. Siang malam maksudnya itu tidak hilang hilangnya, sehingga setiap ia belajar dengan rajin mengenal sesuatu pelajarannya dengan pengharapan yang tak putus-putusnya, supaya itu dapat juga masuk ke sekolah yang tersebut itu tetapi apa boleh buat segala cita-cita dan pengharapan itu rupanya tidaklah akan sampai.

            Begitulah perasaan Masri sewaktu bapaknya berkata seperti itu.

Karena dibalik itu semua Masri ingin dijodohkan dengan Khamisah tapi hal itu tidak diketahui oleh Masri Hanya saja orangtua Masri yang ingin berencana untuk memaksa putrid mereka menikah dengan Khamisan.

            Belum habis      Datuk Temenggung bercakap, bapak Masri berkata pula: “itu betul Masri, tak usah kamu bantahi permufakatan kami ini sehabis perkataan itu tegaklah bapak dan mamakmu, lalu turun Masri tinggallah dengan ibunya di rumah keduanya termenung saja, seperti tak ada lagi yang dipercakapkannya. Putuslah pengaharapan Masri akan melepaskan dirinya karena kata tidak boleh berjawab gayung tidak boleh bersambut lagi oleh bapaknya dan tahulah ia sekarang akan kebenaran takbis mimpinya harimau itu.

            Ibu Masri bersusah hati benar melibatkan anaknya berdukacita itu. Tahu betul ia, bahwa anaknya tidak mau kawin dengan Khamisah.

            “persenang saja hatimu, nak. Janganlah kamu pikirkan hal itu lagi, kalau sudah dengan takdir Tuhan, tentu kita tidak dapat mengelak. Senanglah hati bapakmu, apa boleh buat, turuti sajalah perkataannya untung untung baik saja nanti pertemuanmu dengan khamisah itu………..ah, mengapa terbit airmatamu?

Janganlah engkau persusah hatimu!!! Tidak semuanya maksud kita manusia ini disampaikan Allah. Kita hidup di dunia ini menentang bagian. Apa-apa bagian kita, kita terimalah dengan sabar, mudah-mudahan Tuhan memberi rahmatNYA.

            “tidak, ibu!” sahut Masri sambil menghapus airmatanya.

“hamba tidak bersusah hati. Ibu pun tahu juga, bahwa hamba tidak mau berdukacita, susah hati hamba hanya sebentar, tambahan lagi apa gunanya hamba susahkan juga, yang putih tidak akan hitam, yang hitam tidak akan putih. Cuma yang hamba harap, janganlah ibu menyesal kepada hamba kemudian hari, kalau percmpuran hamba dengan khamisah tidak selamat. Kata bapak tentu tidak dapat hamba lamapui, hamba turut jugalah sedapat-dapatnya dan pahit manisnya hamba telanlah.

            “pergilah!” sahut ibunya, “pukul satu nanti lekaslah kamu pulang, supaya bapakmu jangan payah pula menantikanmu.

            “baiklah ibu, “jawab Masri, “hamba pun hendak kembali dengan kereta pukul tiga saja ke Bukittinggi.” Lalu ia pun turunlah dan terus berjalan menuju rumah Nurmatias guru Bantu di sekolah gobernomen kelas dua disitu. Didapatinya disana Nurmatias sedang duduk seorang dirinya di serambi rumahnya. Dari jauh ia sudah tersenyum melihat Masri dating, lalu berdiri dari kursinya sambil berseru: “hai Masri, bila dating? Naiklah!”.

            “tadi,” sahut Masri, lalu ia pun naiklah dan duduk dekat Nurmatias.

            Tak lama kemudian istri Nurmatias membuat the dan mereka makan kue bersama. Sambil bercerita tentang kehidupan.

            Di langit yang tidak berawan, biru rupanya laksana tabir bara yang luas terhampar tinggi, matahari memancarkan cahayanya yang cemerlang, mengirimkan sinarnya ke muka bumi ini untuk memanasi dan menerangi laut dan menyebabkan hari amat panas dan eloknya adalah bumi seperti baru dijadikan oleh Tahalikulalamin kelihatannya. Beberapa lingkaran yang kuning merah mengelilinginya yang sinamai orang “gelanggang matahri” tampak jelas dipandang mata.

            Cuaca terang bulan kepalang tidak remang sedikit juga, sedangkan gunung sagol dan gunung pesaman yang letaknya jauh dari Bukittinggi nyata terbayang di ruangan mata hijau biru tampak rupanya sebagai mempelai dengan anak daranya yang berpakaian sutra hijau, berdirilah gunung berapi dan gunung singgalang, memandang rendah kepada Bukitbarisan kamang yang menghormatinya.

            Di bawah pohon mangga, di belakang rumah Tuan Leanhouts,guru sekolah Raja, berdirilah dua orang anak laki-laki bersandar dip agar, sedang bercakap-cakap.

Ketika beliau mengajar pertamakali di kelas kita tempo hari, selalu beliau mengajar pertamakali di kelas kita beriang hati menerangkan segala pengajaran kita.

Duduklah Masri bermenung saja diatas kursinya, seperti orang kehilangan semangat. Kerajinannya dalam dua bulan yang lalu telah mengundurkan diri membukakan tempat untuk kemalasannya. Tidak pernah lagi Masri mengapal pengajarannya sampai jauh malam.

            Sekali sekali terdengar Masri malagu, menyanyikan lagu Kusidah, gambus Arab dan lain-lain yang telah dipelajarinya ketika ia mengaji dulu dicampuri dengan lagu-lagu Melayu seakan –akan menandakan kebimbangan hatinya.

            Heran kawan-kawannya melihat kelakuan Masri yang akhir-akhir ini selalu merenungkan dirinya seperti batu jatuh ke lubak, sebagi hujan jauh ke pasir, tidak diindahkannya sedikit juga.

            Gedebak-gedebuk hatinya, karena tidak tahu ia, apa yang akan dikatakan tuan direktur kepadanya.

            “o, kamu Masri duduklah! Ada yang akan saya bicarakan dengan kamu.”

            “ Masri!” kata tuan Lavell memulai bicaranya seperti seorang bapak berbicara dengan anakanya, sebab kamu pun boleh jadi memandang murid-murid saya sekalian, seperti anak kandung sendiri, walaupun kamu berlainan bangsa dan tupa dengan saya.

            Kamu saya lihat tidak serajin dahulu lagi. Saya dengar kamu selalu bermusik-musik dan bernyanyi nyanyi saja di bilikmu tidak ada kamu mengapal pengajaranmy. Pendeknya kemalasanmu sudah terang benar di mata kami, guru-guru.

            “kamu belajarlah dengan rajin, kalau kamu hendak baik, kamu turutlah, kalau tidak………pulang maklum kepadamu sendiri.

            Dengan beriba hati diceritakanlah kemauan dalam kehendak orangtuanya itu, tidak disembunyikannya barang sepatah pun jua.

            Alangkah bagus dan moleknya rumah ini kecil tidak besar pun tidak sedang manis kelihatan, atapnya genting kehitam hitaman, dindingnya batu bercat kuning, di kiri kanannya kebun ketela. Dindingnya terhampar pula kebun nanas buahnya besar-besar, lebih dua atau tiga kali sebesar nanas di negeri lain. Nanas diantar tesebut kemana mana tentang besar dan manisnya. Dua buah kebun bungan yang kecil tempat bunga mawar, inai dan kaca piring memperlihatkan bunganya yang harum cantik menghias rumah itu di sebelah mukanya.

            Sebuah jalan kampong yang bertanah sebam, tidak berbaku yang sederhana lebarnya, lalu dihadapan rumah itu berbelok berliku-liku mengukir kampong timbang galung, senang hati orang melihat kampong setumpak itu.

            Dari semua kegetiran hidup Masri kini dia telah hanya sabar dan menjalani dengan tabah.

Dengan tidak menantikan jawab lagi dari Masri, pergilah Amir Hamzah memanggil kawan-kawannya itu. Didapatinya Rasyid sedang duduk-duduk pula di rumahnya bercakap-cakap dengan Abu lazar.

            “o, engkau Amir, naiklah!” ujar Rasyid  tak usah lah, sahut Amir Hamzah, marilah kita pergi main terup ke rumah engkau Masri, untuk pematang melangkah hari.

“ah malas awak main terup, main angin saja.

Tidak, sahut Masri sambil tersenyum keriangan main bertaruh uang hanya sekali inilah baru

“o, bagus engkau Masri, bisik Abu lazar yang duduk di sebelah kanannya. “ lawanlah berhidup-mati! Mati pada engkau!.

“hidup mati bagaimana? Tanya Masri.

“ dari mata satu sampai enam hidup namanya, sahut Rasyid. “selebihnya mati, ayo lawanlah engkau Masri! Engkau juga sebelah kan minta mati tentu!”

Ayo, siapa lawan, mati sekali! Ujar Masri

Dalam perjudian banyak kali benar ia berutang, apalgi pula berjudi disana ketika itu alin adatnya. Bila telah lewat tanggal lima belas hari bulan, orang tidak bermain lagi, hanya sudah main ban saja, dan habis bulan baru diselesaikan utang piutang.

            Setiap bulan, Masri mengeluh dan menggeleng-gelengkan kepalanya, menghitung serta membayar utang judinya yang lebih besar dari gajinya. Dalam pada itu, disana sini di took-toko dia berutang pula yang tak terbayar lagi olehnya, tetapi Masri mengelak-elakkan dirinya dengan janji ke janji saja.

Sehabis pikirannya itu, berdirilah Raden Kusmo dari kursinya, lalu berlari ke pintu, memanggil tukang pos itu, yang belum jauh lagi berjalan.

            “siman !” katanya setelah tukang pos itu masuk ke dalam biliknya, sekarang begini yak au mesti menolong saya, dan pertolonganmu tentu tidak saya lupakan.

            Siman tercengang sebentar, seraya katanya akalu saya sanggup, dengan segala suka hati saya mau menolong Raden.

Begini siman kata Raden Kusmo pula, maukah engkau memberikan sekalian surat-surat yang terkirim dari Mardiana murid HBS di Surabaya dan teralamat kepada Kusmadari murid HBS disini kepada saya? Dalam hal ini tentu kamu dapat menolong saya, sebab Kusmodari tinggal di lorong ini juga.

            Baik Raden, baik! Jangan susah Raden tentang itu! Sahut Siman dengan segera.

Sesudah memberi hormat ia pun pergi dari tempat itu…. Dan rrrrrt layer pun turun, penonton bertepuk tangan menyatakan kegirangan hatinya melihatkan permainan Masri yang hamper-hampir tak dapat dicela itu.

            Ketika Masri bermain tadi, disudut bilik tonil diatas penggung berdiri seorang orang mengintip ke dalam memperlihatkan permainannya.

Ketika Masri bermain tadi, di sudut bilik tonil diatas panggung berdiri seorang  oaring memperhatikan permainanya. Orang itu ialah Rasdiana.

            Bilik yang mula-mula tadi kelihatan pula tetapi perhiasan dan perkakasnya sudah bertukar. Seorang duduk diatas kursi membaca surat kabar. Rupanya cantik bukan kepalang tak jemu mata memandang kebaya pendeknya sutra halus berkilau-kilauan, sarung batik pekalongan yang beragi kembang anggur”, kakinya yang kuning langsat terletak di dalam selop beledu hijau yang tinggi tumit, asyik berahi hati orang melihatnya ketika itu.

Sebentar lagi datanglah tukang pos memberikan sepucuk surat kepadanya dan dengan segera dibukanya surat itu lalu dibaca sekali. Riang hatinya bukan buatan mengetahui isi surat itu.

Siyem! Kata Mardiana anak gadis itu manggil bujangnya dan siyam masuklah ke dalam bilik itu “sediakanlah bilik untuk jama, yem!”

Siyem pun pergilah dan layer pun turun diringi kakanya.

Sehabis perkatannya itu siyem pun pergi ke belakang. Tiba tiba terdengar orang mengetuk pintu dari luar lalu berdirilah Mardiana membukakannya. Raden kusmo masuk ke dalam. Orang muda yang gagah berdiri dihadapannya dambil memberi salam. Mardiana tercengang melihat kedatangan orang itu, karena belum pernah dia bertemu dengan dia.

            Mardiana! Kata Raden kusno dengan suara yang gemetar sedikit, janganlah nona heran melihatkan kedatangn saya ini”

Bukan main takjub Mardiana mendengar orang muda itu menyambut namanya dan tak mengerti ia apa sebanya orang itu kenal kepadanya.

Mardiana menaruh belas kasihan juga melihat Raden kusmo yang demikian memandang rupa kusmo dan perawakannya yang baik itu mardaiana pun entah sudah boleh dikatakan cinta tapi kasihan iba dan saying kepada orang muda itu sudah terasa dalam hatinya.

            Hujan turun sebagai disurahakan dari langit. Semenjak tengah hari tidak ada berhenti-hentinya, disertai pula oleh angina ribbut dan guruh mendayu dayu serta kilat sambung menyambung yang didahului oleh petir dan halilintar yang keras seperti hendak membelah bumi lakunya. Matahari, pelita alam, masih menyembunyikan dirinya juga dibalik awan yang kehitam hitaman yang terus memercikkan airnya untuk penyiraman dunia ini.

            Sedangkan burung-burung pun tak kelihatan dan kedengaran seekor jua tentu sudah melindungkan dirinya dalam sarangnya akan menantikan hujan teduh jalan jalan di Kutaraja yang galibnya ramai setiap hari, lebih lebih dekat pasar aceh ketika itu sunyi senyap tak kelihatan orang lalu lintas.

Sebentar lagi berhentilah Masri membaca berjanji lalu digantikan benar kedengaran perbedaan kepandaian Masri baim tentang bacaan, ataupun tentang bacaan yang berganti-ganti sepasal seorang membaca barjanji itu.

“ engkau penghulu!” kata tuan rumah dengan hormatnya. Dari pihak badan diri hamba sudilah sudah hamba mengabulkan permintaan engkau itu, tetapi perempuan-perempuan di belakang belumlah senang hatinya melepaskan karena katanya ia hendak meminta lagu yang dikeluarkan tadi sedikit lagi sebab tadi hanya sebentar saja.

 

            Pada hari yang ketiga, ketika anak gasid itu sedang duduk di kursi tinggi di sekolahnya datanglah tukang pos memberikan surat kepadanya. Melihat alamatnya saja tahulah Rasdiana bahwa surat itu datangnya dari Masri. Besar hatinya bukan kepalang membaca surat itu. Isinya ringkas saja tetapi berarti.

            Dan Masri mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasdina, adakah ia cinta kepadanya atau tidak. Kalau ada, Masri berharap meminta balasan suratnya, kalau tidak, ya apa boleh buat alamat badannya akan melarat.

            Rasdiana menganggukkan kepalanya sedikit dengan manis, sehingga hati Masri makin berkacau, seraya seperti tidak mengacuhkan kata Masri benar: “hendak kemana engkau ini?”

Ada juga dua tiga orang sahabat Masri yang mengetahui bahwa Masri cinta kepada Rosdiana. Supaya Masri jangan terdorong mencintai buah yang ranum tergantung tinggi itu, yang tak mungkin tercapai olehnya, acapkali mereka itu mempercakapkan hal anak gadisnya itu kepadanya. Sudah banyak saudagar yang kaya dan orang-orang berpangkat.

 

            Rasdiana yang sekarang sudah menerima beslit berhenti dengan hormat dan tidak bekerja lagi, tinggallah di rumah ibunya menolong orang mengerjakan ini dan itu lebih-lebih pekerjaan yang halus-halus terserah ke tangan Rasiana.

            Orang berdesak-desak melihat mempelai bersanding dua dengan pengantinnya. Ketika itu juara peralatan membuka sebuah paket yang diterimanya siang hari tadi. Sehelai selendang sutra yang bagus dan sebuah arloji tangan emas.

            Setelah pukul sebelas malam orangpun menukar pakaian mempelai dan pengantin perempuan lalu dibawa masuk ke peraduan. Sebentar lagi tirai peraduan dilabuhkan oranglain dan kelihatanlah pada kelambu beberapa karangan bunga yang teratur melukiskan huruf-huruf yang teratur menjadikan kata pertemuan.

 

SEKIAN