LAYAR TERKEMBANG

Raden Wiriatmadja memiliki dua orang anak yang sifatnya sangat berbeda, yaitu Tuti dan Maria. Tuti adalah putri sulung dari Raden Wiriatmadja. Ia dikenal sebagai seorang gadis yang berpendirian teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yangselalu serius dan cenderung pendiam, sangat berbeda dengan adiknya, Maria. Ia seorang gadisyang lincah dan periang.
Tuti telah berusia dua puluh lima tahun dan menjadi guru di Sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Sedangkan Maria berusia 20 tahun dan masih sekolah di HBS Carpiter alting Sticking kelas penghabisan.
Pada hari minggu, kedua bersaudara itu pergi melihat-lihat akuarium di pasar ikan Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggap di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selal teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Di perjalanan mereka bercakap-cakap sangat akrab terutama Maria dan Yusuf.
Hari berikutnya Tuti duduk sambil membaca buku diatas kursi yang lebar di pohon mangga di hadapan rumah sebelah Cidengweg. Tuti sudah terbiasa duduk disitu, apalagi hari kalau sudah mulai petang namun disamping kiri dan kanan Tuti masih kosong dua kursi dan Maria lagi asyik memeriksa tanaman kembang-kembangmya dari pot ke pot dan dari perdu ke perdu, ia berjalan membawa gunting dan kemudian ia berhenti ditiap-tiap tanaman dan disamping rumahnya yang disudut dekat pasar kelihatan batang-batang mawar yang tak kurang seratnya berbunga, berbagai bagai warnanya. Tetapi meskipun demikian, kerapian itu akan menjadi kerapian yang mati dan suram belaka apabila tiada maria ialah yang memberi warna yang membawa kegirangan kepada rumah itu oleh kegemarannya akan kembang akar warna-warna yang indah-indah. Dan karena kesukaannya akan musik sebentar-sebentar ia bernyayi atau memutar mesin nyanyi dan krna itulah rumahnya tiada mati atau sepi sepanjang hari.
Di jalan gang howber Yusuf dating dan dia turun dari sepedanya, Yusuf sering ke rumah Maria, setiap paginya Yusuf selalu menunggu Maria dihadapan Alaidruslam dan dari sanalah mereka sama-sama pergi ke sekolah. Tuti dan ayahnya telah merasa bahwa antara Yusuf dan Maria sedang tumbuh tali perhubungan yang halus. Apabila Yusuf dating, selalulah diterima mereka dengan lemah lembut dan hormat. Biasanya meskipun turut duduk sam-sama bercakap-cakap, tetapi kadang Tuti dan ayahnya meninggalkan mereka berdua di serambi hadapan atau di kursi halaman rumah.
Setelah meletakkan sepedanya, Yusuf dan Tuti duduk sambil menunggu Maria di kursi sebelah kiri meja, belum berapa lama mereka berbicara, Maria pun dating dan duduk di sebelah kakaknya. Maria dan Yusuf sibuk bercerita dan Tuti terus membaca bukunya dan hanya sesekali ia menyertai pembicaraan Yusuf dan Maria. Setelah lama kelamaan sudah sepuluh hari Yusuf bersama orangtuanya di Martapura dan dalam sepuluh hari ini ia melepaskan lelah, sesudah ujiannya untuk doctoral pertama dan kedua berturut-turut dan setiap harinya dia selalu bangun kesiangan dan buku-buku pun tak pernah disinggungnya dan setiap hari mulai petang Yusuf suka jalan-jalan dengan Dahlan kandidat “ambtenaar” pembantu ayahnya, masuk dusun keluar dusun.
Meskipun telah lebih dari lima tahun Yusuf tidak tinggal dengan orangtuanya selain Yusuf waktu libur pulang kedesanya Yusuf tidak pernah lupa adapt istiadat bangsanya dan selama Yusuf tinggal dengan orangtuanya tetapi Yusuf tidak bias melenyapkan perasaan sunyi dalam hatinya. Yusuf merasa gelisah dan pikirannya berbalik-balik ke Jakarta dan pada suatu petang dia melihat tumpukan surat dan Koran yang banyak dan Yusuf membalik-baliknya satu persatu dan tiba-tiba terbacanya namanya pada sebuah kartu pos dan dia melihat si pengirimnya Maria.
Suatu hari Yusuf pergi jalan-jalan dan berburu tapi dia melakukan itu semua supaya tidak terpengaruh oleh suasana kota lagi dan ketika Yusuf pulang dari perjalanannya Yusuf tiba di rumah ayahnya bundanya di Martapura kembali didapatinya surat pula dari Maria. Dalam surat itu diceritakannya pekerjaannya dan perjalanannya setiap hari dengan Rukanah saudara sepupunya. Seluruh surat itu berseri-seri penuh kegirangan membayangkan pekerti penulisnya senantiasa riang dan sukacita.
Pada akhirnya dikatakannya bahwa Tuti sudah bertolak ke Solo untuk menghadiri Kongres Perkumpulan Perempuan. Setelah habis surat itu dibacanya temenunglah ia beberapa lamanya menurutkan arus pikirannya dan kenang-kenangannya yang tak tentu arahnya. Tetapi makin lama ia termenung makin berupa dan terbentuklah sesuatu keyakinan di dalam hatinya. Mula mula kabur tetapi makin malam makin nyata.
Sesungguhnya sejak ia sampai di rumah orangtuanya mulai libur hatinya senantiasa gelisah selaku senantiasa ada sesuatu relung yang kosong dalam kalbunya yang tiada dapat diisnya. Telah ia sering memikirkan apakah sebabnya maka libur sekali ini lain rasanya dari sedia kala. Dan di tengah tengah keindahan alam di perjalanan ke Liwa dan Keroi. Kegelisahan hatinya itu bertambah seakan akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya dalam beberapa hari itu relung itu bertambah dalam dan mesra terasa dan Yusuf selalu membaca surat Maria juga membayangbayangkan wwajah Maria dan ketika arus pikiran Yusuf terombang ambing kepada Maria, Yusuf pun tidak mendengarkan ibundanya memanggil.
Waktu makan malam Yusuf berbicara kepada orangtuanya bahwa ia lima hari lagi akan berangkat ke Jakarta karena ada keperluan yang berhubungan dengan sekolahnya. Mendengar kata-kata Yusuf akan bernagkat ke Jakarta bundanya yang belum puas bercampur dengan anaknya itu membantah dan mencoba menahan Yusuf, melihat ibundanya yang bersungguh sungguh benar menahannya. Lemahlah hati Yusuf sehingga diturutkannya kehendak bundanya menunda keberangkatan nya beberapa hari.
Sepuluh hari sesudah itu, Yusuf meninggalkan Martapura menuju Panjang dan setelah pukul tujuh pagi-pagi keesokan harinya Yusuf meninggalkan Hotel Pasundan, naik Sado menuju ke Grooce Lengkongweg. Tiba dihadapan sebuah rumah yang kecil indah, disuruhnya sado berhenti dan ia pun turunlah.
Perlahan-lahan Yusuf masuk ke pekarangan melalui jalan kecil yang berbatu-batu, kiri kanan diapit oleh batang-batang kecil-kecil berdaun merah dan hijau. Sampai di tangga Yusuf berhenti sejurus melihat-lihat dari dalam tiadk ada kedenganran suatu suara seolah-olah rumah itu tidak didiami orang. Maka Yusuf memanggil agak kuat “ sepada” suara Yusuf berseru sekali lagi lebih kuat dan tegas dari dalam suara halus menjawab “ya” dan tak berapa lama antaranya keluar dari pintu yang terbuka itu seorang perawan memakai kebaya pual kuning muda berbunga cokelat, ruapanya telah siap hendak berjalan sambil berkata dengan senyum yang tertahan-tahan. Tapi tiba-tiba Maria melangkah keluar dan sambil tersenyum kemalu-maluan, Maria pun mendekat pada Yusuf dan mengulurkan tangannya “Hallo, Engkau yusus” lama kelamaan Yusuf DAN Maria bercerita dan Maria hamper lupa mengenalkan sepupunya yang sudah lama berdiri tak jauh dari meja. Akhirnya Yusuf dan Rukanah sama-sama menganggukkan kepala memberi hormat kepada masing masing.
Ketika itupun Tuti keluar setelah ia bersalaman dengan Yusuf melihatlah Tuti kepada Maria, seraya berkata dengan bencinya “setinggi ini hari belum mandi”. Muka Maria merah mendengarkan saudaranya itu dan sambil tersenyum senyum kemalu-maluan , katanya “temanilah Yusuf karena ia harus pergi ke kantor, setelah Rukanah pergi, duduklah Tuti diatas kursi berhadapan dengan Yusuf hatinya masih kesal memikirkan Maria dan sebagai melepas kesal hatinya itu Tuti dan Yusuf bercerita sambil menunggu Maria selesai mandi dan hari berikutnya Yusuf dan Maria duduk berdua diatas batu besar yang hitam kehijau-hijauan oleh lumut. Tiada jauh dari mereka, berdiri empat orang anak muda Belanda, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan di bawah di tempat anak bermai main air, beberapa orang anak lai-laki berpakaian pandu. Sementara itu dari atas tebing di belakang Yusuf dan Maria senantiasa kelihatan orang dating dan tiba tiba Maria diam.
“mengapa engkau diam saja? Tanya Yusuf tiba-tiba seraya memalingkan matanya dari air terjun yang menutiara berpantaran ditiup angina, melihat kepada Maria, Maria pun menjawab: “saya agak lesu” katanya hamper-hampir tidak kedengaran mendengar jawab Maria itu, segera berubah muka Yusuf, keingnya berkerut dan cemas menajam matanya memandang kepada Maria “engkau sakit Maria……..” apa? Sakit, tidak tetapi saya agak letih sementara itu Yusuf dengan pesat mengamat-amati gadis yang dekat dihadapannya itu, rambutnya yang hitam lebat terayam mukanya yang merah bercahaya terseyum ditahan, badanyya sebentar terasa kepadanya tangan yang halus itu gemetar pada dada bajunya, sesuatu perasaan nikmat sejenak dari tadi memenuhi seluruh badannya dan sebelum ia dapat mengatur pikiran lagi, kedua tangannya telah terangkat mendekap tangan gadis yang baru selesai mencucukkan kembang pada bajunga. Dari mulutnya keluarlah ucapan agak gemetar.
Setelah Yusuf dan Maria tiba di seberang mereka turun ke bawah ketepi anak air. Beberapa lamanya mereka melangkah dari batu ke batu di sebelah batu yang besar di tempat yang terlindung jauh dari lalu lintasan orang. Duduklah mereka berdua indah permai tempat itu rasanya seperti yang di tengah-tengan alam dan indah remaja berdua dalam limpahan perasaan cinta pertama yang penuh harapan.
Tapi lama kelamaan Yusuf mulai curiga terhadap Maria karena Maria akhir-akhir ini sering batuk-batuk dan di balik kecurigaan itu v langsung bertanya pada Tuti kakaknya Maria da Tuti menceritakan tentang penyakit Maria terhadap Yusuf dan Yusuf pun diam mendengarkan cerita Tuti dan tiada beberapa lamanya datanglah dokter yang diapnggil Yusuf. Maria diperiksanya sangat teliti dan akhirnya ia tiada sangsi lagi bahwa Maria mendapat penyakit batuk darah. Sakit Maria yang sangat melemahkan badannya rupanya Maria mengidam penyakit TBC yang sudah lama dikandungnya dalam badannya untuk memecah keluar. Sampai jauh malam barulah Yusuf pulang ke kamarnya Maria sudah dua hari tinggal di CB 2. Penyakit malarianya terang ditambah oleh penyakit batuk darah yang tiba tiba memecah keluar dan dalam dua hari iru dokter merawatnya mendapat keyakinan bahwa sebaikbaiknya bagi Maria ialah pergi ke Pacet ke rumah sakit TBC bagi perempuan yang terletak di tengah tengah pegunungan yang sejuk hawanya, akhirnya Maria dirawatnya di Pacet, sekembalinya Tuti dari Pacet amat sunyi terasa kepadanya di rumah hanya berdua dengan Juhro pembantunya itu. Meskipun Maria tidak ada di rumahnya, tapi Yusuf sering juga berulang ulang ke rumah Maria. Katanya untuk mendengar dengar kabar dan untuk menemani Tuti supaya jangan kesepian. Sunyi sepi hari berganti sudah sebulan lebih Maria di rumah sakit di Pacet, Maria sudah mulai merasa keenakan badannya, Maria memandangkan matanya ke kebun bunga di hadapan jendela Permai benar rupanya naik kembang dahlia pagi pagi ini, merah,ungu, putih dan kuning, besar besar bersorang-sorang di dalam cahaya matahari. Kembang mawar merah dan putih yang tebal bersusun angkuh memandang kepadanya, jarang ia nampak kembang yang sesubur itu tumbuhnya di dalamkebun dan alangkah mesranya memancar kemerahan kembang gerbera yang indah tersusun dalam petak petak yang amat baik jagaannya.
Dalam gemas melihat kesukaan alam sekelilingnya itu, bertambah terasa mendalam kepada Maria kemalangan dirinya terkurung tiada dapat melepaskan keinginannya kepada kekasihnya Yusuf lalu diambilnya kertas dan menuliskan surat kepada Yusuf tapi dibalik kesedihan Maria Tuti pun merasakannya karma ia pun kesepian tanpa kehadiran adiknya Maria. Akhirnya Maria menjodohkan Tuti dan Yusuf agar supaya mereka tunagan dan demikianlah tiap-tiap hari Tuti dan Yusuf selalu mengunjungi Maria ke rumah sakit, hari berikutnya Maria, Tuti, Yusuf yang masih belum juga dilepas-lepaskannya itu, Tuti dan Yusuf membantah menarik tangan mereka masing-masing dan Tuti yang telah lama tidak dapat menahan hatinya mendengar kata adiknya itu berkata :” Maria, Maria sampai kemana-mana pikiranmu? Engkau membinasakan diri kamu sendiri…engkau harus girang, engkau harus percaya, bahwa engkau mesti sembuh, jangan diturutkan pikiran yang bukan-bukan, engkau mesti sembuh, mesti sembuh. Dan Yusuf juga selalu memberi semngat hidup terhadap Maria bahwa Maria akan sembuh dari sakitnya akhirnya Yusuf dan Tuti terus berjalan menurun ke bawah menuju auto yang akan membawa mereka kembali ke Sindangkya, berbagi pikiran cemas dan perasaan mengatur jiwa mereka dan membuat cemas akan penyakit Maria yang tidak tertolong lagi, harapan buat sembuh tidak banyak, Maria hanya pasrah saja sama yang di atas.
Hari masih pagi-pagi dan di pekuburan dekat Pacet, tiada berapa jauh dari rumah sakit, sunyi senyap. Tempat manusia melepaskan lelahnya sesudah perjuangan hidupnya itu ketika itu sebenarnya tempat beristirahat yang sunyi dan aman. Tak ada suatu bunyi ataupun suara yang ganjil yang mengusik ketenangan yang mulia dan kudus itu.
Dari celah-celah kembang plamboyan yang merah marak turun melandai ke tanah, cahaya matahari, halus-halus dan panjang-panjang, laksana hujan yang jatuh ditiup angina, menyirami tanah kuning kelabu dengan air emas.
Dari arah Cianjur datang menuju ke tempat peristirhatan itu sebuah taksi yang membawa seorng laki-laki dan seorang perempuan. Kedua-duanya masih muda dan menilik kepada air mukanya orang berdua itu tiada berapa banyak selisih usianya.
Tiba dimuka pekuburan berhenti taksi itu dan keluarlah mereka. Yang perempuan membawa di tangan kanannya karangan bunga mawar putih yang indah besar-besar.
Masuklah mereka ke pekarangan pekuburan menuju ke sebuah makan batu pualam yang jauh lebih indah dari makam makan yang lain. Kiri kanannya berteraliskan besi yang bercat hijau dan diatasnya melonjong atap, seng, dijunjung oleh kasau-kasau besi yang ujungnya melengkung seperti berukir permai rupa sekaliannya, seakan akan bukanlah sisa badan manusia yang ditutupinya, tetapi sesuatu yang tak ternilai harganya.
Pada batu nisan pualam putih berukir tepinya, tertulis air emas yang berkilat-kilat:
Maria berpulang…. Januari 193..usia 24 tahun
Dan kepermaian kuburan di tempat yang sunyi sepi itu selaku digembirakan oleh sorak hijau dan kuning daun pudding, disela oleh kemerahan kembang dahlia yang marak mesra.
Perempuan yang membawa karangan bunga mawar yang putih suci itu perlahan-lahan meletakkan karangan bunga itu di sebelah kepala makam yang permai itu. Maka selaku terpekurlah berdiri kedua-duanya menadang ke makam itu, tiada menggerak-gerakkan dirinya.
Lima hari lagi akan berlangsung perkawinan meeka di Jakarta. Sebelum perkawinan mereka berlangsung, pergi dahulu mereka jiarah ke kuburan orang yang sama-sama dicintainya.
Matahari pagi terus menjatuhkan cahayanya di tempat peristirahatn manusia itu. Dari sebelah timur dating sejurus angina bertiup dan kelopan kembang plamboyan yang kuning dan merah gugur menghujan ke tanah laksana beras dan kunyit yang diserakkan ke atas kepala pengantin memohon restu.
Orang berdua itu tiada bercakap-cakap. Sunyi di sekeliling mereka, sunyi segala kuburan dengan sekitarnya dan kesunyian sekaliannya itu meresap masuk ke kalbu membangkitkan kenang-kenangan akan perjalanan hidup yang ganjil yang terbentang di belakang mereka.
Yusuf bertunangan dengan maria, kukuh dalam cinta mudah remaja. Sampai dua kali Tuti menolak jodohnya oleh karena tiada sesuai dengan pekertinya sebagi perempuan yang telah menyerahkan dirinya kepada pergerakan. Remuk dan hancur rasa hatinya dalam gelora perjuangan jiwanya. Tetapi akhirnya terang dan jelas pendirian sebgai karang yang perkasa menganjur diatas gemuruh gelombang. Tiada kawin apabila perkawinan itu hanya sekadar untuk lari dari kesunyian diri.
Yang mahakuasa menetapkan sesuatu yang tiada dapat dielakkan: Maria sakit, sehingga terpaksa dirawat di rumah sakit di Pacet.
Dalam kedukaan bersama yang dibangkitkan oleh kasih sayang pada orang yang sama sama dicintai dengan tiada diketahui terjalin antara mereka tali pengertian dan penghargaan batin yang halus.
Dan senja raya yang takkan terlupakan seumur hidup di rumah sakit yang sunyi di lereng gunung yang ungu lembayung.
Perhubungan sutera yang dianyam dalam keindahan alam pada pertukaran siang dan malam oleh seseorang yang dicintai waktu itu berdiri di hadapan gerbang akhirat.
Beberapa lamanya Tuti dan Yusuf berdiri tiada bergerak-gerak laksana terpaku pada tanah yang pemurah itu yang senantiasa tulus dan iklas menerima manusia yang letih lesu dalam pangkuannya yang sejuk. Maka perawan itu memandang kepada tunangannya memberi isyarat meninggalkan tempat itu.
Dalam kesunyian yang kudus dan mulia itu terasa kepadanya bahwa suara manusia sesuatu yang tiada layak seolah-olah benda haram yang ri tempat suci dan keramat.
Dengan tiada bercakap-cakap berputarlah keduanya seraya berjalan kea rah jalan besar tempat taksi menanti.

Bunyi auto menderu dan bertolaklah mereka menuju ke Cianjur. Sekali lagi mereka melihat ke belakang ke pekuburan yang sunyi sepi tinggi di atas dipayungi oelh kembang plamboyan yang merah marak. Masing-masing mengejap-ngejapkan matanya menahan airmata yang mendesak hendak keluar.

Waktu terus, terus berjalan
Kerisik gugur, gugur ke bumi dan pucuk muda memecah,
Memecah pula diujung dahan
Hhuuhh, alangkah lekasnya waktu berjalan.