LANGIT
DAN BUMI SAHABAT KAMI

Selama beberapa waktu tentara Sekutu berada di kotaku.
Dalam kekacauan alih pemerintahan, bahan makanan menghilang dari pasaran. Kami meneruskan bergiliran antri di warung-warung untuk mendapatkan sekedar jagung penuh ulat. Kacang hijau yang penuh serbuk dan gaplek yang busuk. Kerapkali, bahkan setelah seharian berdiri mengikuti alur deretan, kami pulang ke rumah tanpa segram makanan pun karena barang dagangan itu sudah habis. Lalu malam-malam kami berlari ke toko atau warung lain. Meskipun pintunya masih tertutup, ada berita yang mengatakan bahwa keesokan harinya akan menjual menir yang baru diturunkan dari gudang di pelabuhan.
Keselamatan itik dan ayam menjadi terancam. Beberapa hari binatang-binatang itu masih dilepas. Tetapi setelah kami perhatikan, yang pulang ke kandang semakin kurang. Kulihat dengan mata kepala sendiri dua ekor ditembaj serdadu Gurkha untuk dibawa ke tangsi. Lain-lainnya ditangkap penduduk kampong. Akhirnya, berhubung dengan sukarnya dedak, Ayah menukarkan itik-itik yang masih tinggal dengan jagung dan makanan lain. Dua ekor, jantan dan betina, kami kurung di kandang ayam. Mereka hanya dikeluarkan ke latar saja. Masih ada dua babon dan satu jago. Bapak membikin sangkar terdiri dari tampah anyaman bambu dan kurungan bulat berlubang-lubang, keduanya diikat menjadi satu dengan tali. Masing-masing binatang mendapat satu kurungan.
Langit-langit kamar tengah sebelah timur masih tetap memiliki papan yang bisa dibuka dan ditutup, dipergunakan sebagai pintu menuju ke loteng. Ayah naik ke pintu tersebut melalui tangga bambu, lalu menggerek sangkar-sangkar berisi ayam ke loteng. Di sana juga terkumpul berbagai barang makanan yang menurut Bapak lebih baik disembunyikan dari pandangan mata orang luar. Rumah kami berkali-kali mendapat kunjungan serdadu asing, baik Inggris, Amerika maupun Gurkha. Mereka keluar-masuk rumah orang di kampung dan di jalan besar, berbicara dan bergurau. Tapi seringkali meninggalkan penghuni sambil membawa barang “hadiah” berupa makanan maupun benda berharga lainnya. Sebab itulah Ayah memutuskan buat menyembunyikan ayam-ayam di atas langit-langit rumah. Setiap hari bapak kami naik ke sana untuk memberi makan dan membuka beberapa genting agar binatang-binatang tersebut mendapat panas matahari. Tiga kali seminggu, mereka diturunkan. Sangkar dibersihkan, ditaburi sedikit serbuk kapur, dan ayam-ayam dilepas di latar. Seseorang berjaga di kebun muka buat memberi tahu secepat-cepatnya jika ada serdadu datang. Dengan cara demikian, di zaman yang serba kekurangan itu kami dapat makan telur. Dan pada saat-saat terjepit, menukarkannya dengan bahan makanan lain atau obat-obatan.
Kami tidak masuk sekolah. Ayah juga tidak ke kantor. Dia dan beberapa kawannya menolak bekerja sama dengan pemerintahan kedudukan. Baik ketika kota di tangan tentara Sekutu maupun ketika Belanda mengambil alih tampuk kekuasaan. Penolakan kerja sama inilah yang kemudian hari, pada masa dewasaku, justru dijadikan alasan oleh pegawai-pegawai yang bersangkutan di bawah pemerintahan Republik Indonesia untuk memutuskan bahwa ibu kami tidak berhak menerima pension Ayah.
Kegiatan sehari-hari terpusat kepada pencarian isi perut.
Tangsi polisi di samping rumah telah rusak berantakan oleh montir, granat, dan kebakaran. Kebun tangsi itu terletak tepat sejajar di samping Wetan Dalem, ialah sebutan kami buat kebun sempit sepanjang sisi rumah sebelah timur. Sejak penghuni tangsi mengungsi, kebun itu tersia-sia, penuh ilalang dan rumput. Tetapi di sana juga penuh pohon pepaya dan pisang. Setelah beberapa hari berlalu dan yakin bahwa penghuni tangsi tidak kembali, penduduk kampung berebutan masuk ke sana memetik daun dan buah pepaya guna dimasak menjadi sayur. Kami meniru mereka. Dalam sekejap mata pohon-pohon itu menjadi gundul, tinggal daun-daun tua yang berjuluran tangkainya, bahkan tangan-tangan terbuka dan menggapai-gapai mengharapkan kasihan orang. Lalu kebun tangsi itu ditinggalkan, tak seorang pun memperhatikannya lagi. Tapi kami terus mengunjunginya dengan rajin. Ibu menyuruh Ayah memotong sebatang pohon papaya. Sampai di Wetan Dalem, batang itu dibelah. Hatinya kami ambil dan kami bawa ke dapur, diparut panjang-panjang dan pipih menjadi sayur lodeh yang lezat. Kulit batangnya dijemur di latar menjadi bahan bakar yang lumayan. Lama-lama pikiran ibu itu ketahuan oleh orang lain. Dan kebu tangsi sekali lagi dirampas isinya. Kami sempat menyimpan beberapa batang pohon pepaya yang berharga itu sebelum orang-orang kampung menghabiskannya.
Ibu juga tidak melupakan daun-daun yang tumbuhnya tersembunyi. Dia mengajakku ke padang ilalang di belakang rumah. Di tempat-tempat yang dekat dengan saluran parit, tumbuhlah tanaman yang biasanya dipergunakan orang sebagai makanan cengkerik. Ada dua macam, krokot dan kremah. Kedua-duanya masuk ke dalam panci di dapur Ibu, menjadi sayur yang sedap. Berbagai daun lainnya yang semula hanya kami kenal sebagai bahan permainan pasaran kini dipetik oleh Ibu, disuguhkan kepada kami sebagai lauk yang amat berharga.
Rumah kami bertambah umur. Namun tetap teduh dan ramah. Langit-langitnya melindungi barang-barang ringan yang merupakan kekayaan kami, pelukan buminya menyimpan sebagian besar barang Paman yang masih bisa diselamatkan dari rumah Pendrikan. Di rongga-rongga naungannya, kini kami tidak sendirian. Dia juga menerima pengungsian beberapa kerabat dan saudara yang memerlukan pertolongan. Di kamar belakang timur ada Kang Marjo dan Yu Saijem. Dari sana menyeberang ruangan makan, di bilik sebelah barat, ada Yu Kin, keluarga dari pihak Ibu. Dia sedang mengandung bayinya yang pertama, dan suaminya masuk penjara. Ibu tidak sampai hati membiarkannya tinggal di rumah orang lain, lalu menyuruhnya datang dan hidup bersama kami. Di kamar-kamar depan yang terletak di pinggir pendapa, sebelah barat dan timur juga terisi. Tapi tidak perlu kusebut di sini siapa mereka, karena aku tidak mendapatkan sesuatu yang penting dengan kehadiran mereka. Juga karena untuk selanjutnya, aku tidak pernah meneruskan hubungan dengan mereka. Kotak radio bersama lemarinya dipindahkan Ayah ke salah satu kamar tengah. Dan kami sekeluarga menempati kamar-kamar tersebut.
Kecuali Yu Kin, pengungsi-pengungsi itu memasak serta mengerjakan keperluan rumah tangga masing-masing. Kalau ada rezeki, membayar sewa sekadarnya. Tetapi lebih sering orang tuaku tidak menerima apa-apa, karena memaklumi kesukaran mereka. Ayah hana menuntut supaya dalam hidup bersama, mereka mengulurkan tenaga buat pemeliharaan rumah, kebersihan dan kebutuhan air. Orang tuaku juga berpikir, bahwa mereka tidak akan lama tinggal bersama kami.
Memang keadaan tetap darurat.
Maryam, Heratih, dan suaminya yang berangkat ke Solo untuk dua hari, tertahan di rumah paman Ayah sudah lebih dari dua bulan. Orang tuaku tidak terlalu mengkhawatirkan keselamatan mereka, karena di sana mereka tinggal bersama keluarga sendiri. Dari seisi rumah, akulah yang merasakan betapa kosong hidup berbulan-bulan tanpa Maryam.
Oleh mengurangnya bahan makanan, kucing-kucing juga menghilang diculik penduduk kampung. Yang tinggal hanya seekor. Bulunya putih bersih, tetapi di perut dan ujung ekornya ada campuran warna kuning dan hitam yang tampak kehijau-hijauan. Seolah-olah merupakan jantung dan tangkai kembang. Sebab itulah dia kuberi nama Melati. Yu Saijem membawa seekor kucing jantan, berwarna putih-hitam. Kedua binatang tidak boleh keluar rumah. Kami mengawasinya benar-benar; keduanya hanya berhak menginjakkan kaki sampai ke halaman muka dan latar bersemen diantara rumah induk dan deretan bangunan belakang.
Burung-burung perkutut tidak ketinggalan menjadi alat pembayar bahan makanan. Sekor demi seekor sejak zaman revolusi, burung-burung itu naik turun loteng, lalu jatuh ke tangan pedagangg cina. Sedangkan si jalak tidak ada lagi.
Pada hari-hari pertama ketika tentara Sekutu datang, dan pengungsian terjadi besar-besaran, ada pencuri yang berhasil masuk ke rumah. Dia memanjat dinding sebelah barat yang membatasi jalan kampung. Diangkutnya semua pakaian yang belum kering dan terentang di kawat di latar. Kesokan harinya kami lihat si jalak mati di dalam sangkar. Kata Ayah, barangakali dia mulai berteriak “maling-maling” seperti biasanya pada waktu ada orang yang tidak dikenal mendekati kurungannya, lalu dicekik oleh pencuri itu.
Maryam tidak ada. Si Jalak mati. Ayam-ayam tersembunyi jauh dari jangkauanku dan itik-itik jarang keluar. Kawan satu-satunya bagiku tinggal si Melati. Karena tidak masuk sekolah, hari-hari menjadi panjang sekali bagiku. Orang tuaku terlalu sibuk berpikir apa yang akan kami makan esok hari. Kakak-kakak lelakiku tak pernah mempedulikanku. Hari-hariku yang membosankan kuhabiskan bermain dengan anak-anak kampung, tetangga yang tinggal berdekatan dengan kami. Aku pergi ke rumah mereka, melihat cara hidupnya yang amat berlainan, mengikuti bahasa mereka yang kasar dan mengejutkan. Sebagai gantinya, mereka berdatanganan ke kebun kami, bermain pasaran, berkejaran, benthik dan kelereng di halaman depan. Tetapi Ibu tidak begitu suka jika aku berkumpul dengan anak-anak itu. Biasanya mereka merusak tanaman. Akhirnya akulah yang keluar menemui mereka. Itu pun tidak sering.
Pada waktu itulah aku menemukan cara mengutarakan isi hati yang lain daripada berbicara, ialah menulis. Sejak tumbuhnya kesadaran dalam lingkungan alam bocah, yang dalam kata lain bisa disebut ingatan, aku mengetahui bahwa aku sering melihat dan mendengarkan daripada berbicara. Bukan soal kemalasan maupun ketidakmampuan buat mengeluarkan apa yang terkandung di dalam kepalaku, melainkan karena aku berpendapat tidak perlu berbicara. Pada saat-saat aku merasa perlu campur tangan barulah aku mengatakannya.
Ketika pemerintahan kota diserahkan kepada tentara dan administrasi Belanda, sekolah-sekolah dibuka kembali. Demikian pula kantor dan jawatan. Perbatasan kota dibuka, kemungkinan petani-petani datang menjual hasil sawah lading serta peternakan mereka. Dengan demikian pasa pun menjadi ramai lagi.
Seperti kata Ayah, zaman harus terus bergeraj buat melengkapi sejarah. Kota kami bagaikan barang rebutan, dari tangan seorang pindah ke tangan orang lain, dari pemerintahan satu ke pemerintahan lainnya. Setiap kali kehidupan berubah, namun manusianya tetap sama. Diantara mereka itu, seperti kata Ibu, terselip setan-setan yang menjelma, dijadikan oleh Tuhan buat mencoba ketabahan hati manusia. Peralihan dari zaman ke zaman selalu menyebabkan ada orang yang menjadi penjilat kaun kuasa. Pada zaman inilah kami menjadi kurban kedengkian yang demikian.
Dan Ibu sekali lagi menunjukkan betapa luas serta tauwakal hatinya. Seperti katanya yang sering diulang-ulanginya kepada kami, “Sabar dan dermawanlah seperti bumi. Dia kauinjak, kauludahi. Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman.”