KEBERANGKATAN

Harinya lembab berhujan kecil. Tak berputusnya air turun sejak pekan-pekan terakhir langit yang kelabu mengawang menyekap hati hati penduduk kota. Beberapa tempat tergenang limpahan coklat atau hitam, tersela oleh jalan-jalan becek menggelincir.
Kota besar yang tidak memiliki wajah berseri sehingga dapat dibedakan dari kota-kota lainnya itu menjadi semakin menjadi miskin dan berjejalan kelihatannya. Terutama lorang-lorang perkampungan dimana ribuan rumah dari kayu atau anjaman bamboo berdesakan dan himpit-menghimpit jauh dari kumpulan muram itu, di tepi jalan beraspal, deretan gedung dan rumah, deretan gedung dan rumah batu kelihatan diam, seolah-olah menghuni dunia yang terpisah. Terang yang datang dari kaca-kaca jendela serta pintu menghilhamkan rasa hangat.
Harinya basah dan muram, juga hari itu yang terakhir bagi mereka berpisahan dengan bumi Indonesia. Tanah sebagian orang, tetapi juga tanah yang menjadi negeri kelahiran sejak berpuluh keturunan. Silvi adalah adik yang memanggilku dengan akhiran ye. Dia mengetahui bahwa aku lebih suka kepada panggilan nama biasa, seperti orang-orang Indonesia tulen. Karena elisa ini adalah kakak yang paling saying kepada silvi dan reo. Dia berkata kepada reo, baik-baik dengan silvi, reo! Jangan kau biarkan mami memukulinya, karena kakak mau berangkat.
Bangku-bangku panjang ruang itu penuh dengan penumpang pengungsi. Sejumlah kanak-kanak duduk atau berjongkok di lantai, matanya jelas mengantuk karena bangun terlalu pagi. Diantaranya ada yang menyedot ibu jarinya memeluk erat secara kain selimut kota penuh ludah. Di perwakilan langsung minta ketemu dengan tuan rinbergen, dia yang mengurus pengungsian. Aku harus melepaskan diri dari adikku perempuan, mengambil jalan lain untuk menemui kembali keluargaku di kamar tunggu. Aku masuk melalui pintu kamar tunggu penerbangan dalam negeri. Dari sana aku dapat langsung mencapai kamar tunggu internasional sampai disan kulihat telah banyak penumpang seseorang pramugari darat berdiri di dekat pintu yang menuju lapangan.
Dari tempatku, aku mengawasi majunya iringan penumpang, masuk ke bagian pabean, terus ke imigrasi mereka berdesakan seperti ketakutan ketinggalan pesawat. Laki-laki, perempuan, besar, kecil. Anak-anak di bawah umur berjalan mengikuti langkah ornag tua masing-masimg dengan susah payah pagi itu menjelang keberangkatan. Beberapa menit lagi kami akan berpisah. Barangkali untuk beberapa bulan, barangkali untuk beberapa tahun, barang kali pula untuk selama-lamanya. Aku ingin mengenyam saat-saat bersama bersama terakhir itu dengan ketenangan penuh kekeluargaan meskipun ada ayah dan adik- adikku tapi hidup keluarga yang sebenarnya tidak pernah kau rasakan.
Sudah empat tahun aku pindah dari rumah orangtuaku, bukan menjadi rahasia lagi diantara kerabat dan kenalan bahwa antara aku dan ibuku tergelat jarak yang tak mungkin akan dapat didekatkan aku bahkan percaya ibuku sendiri tidak menyadari mengapa aku tidak menyukainya. Aku tidak sampai membencinya pikiran dewasaku mengerti bahwa orang tua merupakan pokok kelahiran, tiang kokoh suatu asal usul. Sikapku terhadap ibuku disebabkan karena perlakuannya yang keras dan kuanggap keterlaluan. Tangannya ringan serimg jatuh menampar muka atau kepala anak-anaknya, dia tak segan-segan mengambil benda pembantu yang ada didekatnya buat memukuli tubuh kami semua jenis kenakalan dihukumnya, anak-anak biasa sampai kepada kelupaan membeli satu atau dua benda seperti yang dikehendaki dari warung, hingga kepada mencuri uang belanja yang dilakukan oleh Teo. Semua itu hukuimannya sama, ialah hukuman sekeras –kerasnya.
Pada umurku yang ketujuh belas tahun aku menerima hajarannya yang terakhir. Aku lari kerumah seorang kawan menunggu disana beberapa minggu sebelum nmasuk ke asrama. Berkali-kali ayahku datang menyuruhku kembali, tetapi aku tidak ingin terjun kedalam masyarakat tanpa tujuan sehat, delain perkawinan guna menolongku keluar dari cengkraman ibuku, waktu itu aku sudah bekerja sudah dapat hidup sendiri tanpa bantuan siapapun. Dengan umur semudah itu aku berani menantang apa yang bakal terjadi. Rumah orangtuaku bagiku hanya merupakan kunkungan.kadang-kadang ku tidak dapat menahan diri buat menyesali ayahku. Dia kelihatan selalu mengalah terlalu pengecut dihadapan isterinya, dan lebih lagi malam itu, malam terakhir aku menerima pululan ibuku karena pergi bersama seorang kawan yang tidak disukainya, dengan tenangya ayah melihat ibuku memukuliku, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, tak selangkah pun ia beranjak dari tempat duduknya buat menolongku .
Keluarga tidak terhindar dari jilatan asap mendidihnya suasana kerabat kenalanku semakin takut keluar eumah seorang diri. Disekolah Reo dan Silvi menerima segala celaan dan ejekanmeskipun guru-guru yang berpikiran luas mencegah perlakuan yang tidak patut dikatakan tentram. Demikian pula dikampung tenpat mereka tinggal warung-warung mereka , katanya kepada mereka beli ditempat lain saja, kami tidak sudi menerima duit budak Belanda. Akhirnya semua godaan dan ketakutan itu tidak dapat dilawan. Orang tuaku memutuskan akan meninggalkan Indonesia, aku tidak tahu siapa yang mempunyai niat pertama, ibuku ataukah ayahku. Aku tidak pernah menanyakan perkampungan itu letaknya tak jauh dari lapangan udara, terbagi dalam daerah-daerah yang terjejar dan bersilang,selama dua bulan terakhir kami tinggal di kampung tersebut kami selalu menghemat segala sesuatunya yg berurusan dengan dapur. Diperkampungan itu kami berjumpa dengan seorang wanita bernama Wati, sifatnya lemah lembut keibuan. Dia berkata kepada aku kalau dia bisa membantu kami untuk masak memasak dirumah.
Suatu malam kami diajak oleh pemuda-pemuda sekitar perkampungan itu kesuatu pesta. Mereka bermaksud baik untuk mengajak kami kesana tetapi aku kurang suka menghadiri pesta seperti itu. Sekali dua kali kami diundang hingga lama-kelamaan , kurasakan seperti dipergunakan sebagaio alat. Seolah-olah undangan itu hanya merupakan dalih buat menjadi pasangan dansa lelaki yang hadir dan dapat memegang tunuh kami. Beberapa kai menghadiri malam dansa itu aku telah mengerti bahwa lingkungan pergaulanku sama sekali telah berganti. Banyak lelaki yang bersikap bebas dan leluasa bersentuhan tubuh, tetapi tidak jarang aku mendapat pasangan yang kaku.
Suatu hari ada seorang pemuda Indonesia berkata kalau wanita itu sangat cantik mempunyai rambut panjang, karena itu dapat menhiasi kepala wanita. Padahal sejak kecil tak pernah aku mendapat pemeliharaan istmewa, baik dari orang tua maupun diriku sendiri itu disebabkan oleh kepiakan pikiran. Sejak saya tinggal diluar lingkungan keluarga, mataku mulai terbuka memperhatikan semua yang berhubungan dengan kewanitan. Aku tidak pernah didik menjadi seorang wanita yang biasa bersolek yang dapat memikal pandang dan akhirnya yang sanggupmenyenangkan pasangan hidupnya. Cara bersolek pertama kali aku ketahui dari kursus ketika menjadi pramugari. Seperti tanaman yangtumbuh didalam rumah, aku terlalu biasa dengan pemberian air dan kaca-kaca pintu dan jendela.
Suatu mala kau diajak oleh pemuda yang bernama Sukaharjitountuk mencinten wayang kulit, dengan polosnya aku bertanya emang kalau . masuk kesana tidak pakai undangan? Aku tidak mengerti wayang karena nelum pernah melihatnya. Tiba-tiba muka dia dekat sekali dengan mukaku dan tangan kirinya mengelus rambut dan pipiku perlahan.
Tanpa kusadari, bibirku dicium Sukaharjito selintas aku merasakan itu seperti sapuan beledu yang lembut dan hangat. Dan sekali ia menciumku lama aku memejamkan mata melihat filmdan membaca lukisan tentang sepasang manusia bercumbuan.
Itu adalah pertama kalinya seorang laki-lakimencium bibirku dan menyentuh bagian tubuh kewanitaanku pergaulanku bisa dikatakan bebas . umur belasan tahun berdansadan berangkulan dengan pemuda mana saja yang termasuk lingkungan duniaku tak sekalipun aku perhatikan mereka menyentuhku. Karena hubunganku dengan dengan Sukaharjito kemudian sering aku diminta menjadi nyoya rumah dalam pesawat presiden. Tetapi kekasihku tidak terlalu memperlihatkan hubungan kami, tetapi bagiku semua itu sudah memuaskan. Aku tidak seperti wanita lain yang terlau suka meminta, tetapi apa yang aku terima dari Sukaharjito sudah lebi9h dari cukup. Jika pada suatu kali dia berkatatidak bisa dating pada hari sabtu, minggu atau pada hari lain yang ditetapkan semula aku selalu memaafkannya Sukaharjito sangat sibuk dengan pekerjaanya itu sangat susah bagi Sukaharjito.
Teman Elisa ingin bertunangan, jadi mereka diajak untuk menyipkan segala sesuatu yang penting, Wati dan lansiah bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan apa yang dibawa kerumah Kumayas. Wait sangat bahagia melihat mereka dan Wati berkata aku tidak mau kalian berdua terlalu repot jadi aku akan memasak beberapa macam masakan.Tamu-tamu yang dating kebanyakan sudah dikenal , diantaranya seorang poster berkulit putih. Aku sangat terkejut melihatnya berada disana, seorang kawanku memperkenalkanya dengan dengan panggilan Rama Beick, dan dia berkata pada saya saya sudah betul-betul orang Indonesia, saya mengetahui bahasa –bahasa orang Indonesia asli. Dan aku berkata pada dia, buat apa pergi kenegeri Belanda? Tuhan memberi saya kawan dimana pun. Dimana orang beriman baik islam maupun Kristen, diditu saya hidup. Semua manusia adalah makhluk Tuhan , semua negeri adalah bumi Tuhan.
Diruang makan, pengantin laki-laki duduk diatas salah satu kursi yang telah diatur disalah satu sudutsecara tiba-tiba. Kumayas bercerita kepada Gail kalau Sukaharjito akan segera kawin dengan Elisa, mungkas bulan depan kalau tidak suka setengah bulan lagi.
Sukaharjito sudah lama mengenal dan bergaul dengan Elisa, sejak kira-kira enam bulan yang lalu dan hubungan yang mereka jalani terang-terangan. Judan presiden pun tidak menyembunyikan rencana perkawinan kemekaannya dengan Sukaharjito, dan hampir semua pegawai istana mengetahuinya. Aku sangat terkejut dan belum menyadari apa arti kabar yang diceritakan kumayas depada aku setelah saat-saat berangsur mengalir semakin terasa tanpa menduasai diriku untuk menghentikan tangis yang meratapi nasibku.Aku tidak sanggup terbang dalam keadaan seperti ini, hatiku tak tenang, tidak dapat menghadapai penumpang yang harus kulayani baik-baik.
Pada suatu saat Lansiah yang mempunyai sifat kesetiakawanan yang luar biasa dia berhasil memalingkan hatiku pada seorang pemuda yang sudah lama memerlukan perhatian, namanya Talib kata Lansih laki-laki boleh dikatakan baru bangkit dari kematian justru karena kehadiranku tidak sepantasnya sekarang jika akan menjadi pengnganya tiba-tiba menjadi lerna hanya karena ditinggal laki-laki
Bagi teman-teman Talib dikira saudara ibuku. Tapi aku tidak mengetahui apakah Talib menduga kedalam pergaulanku dengan Sukaharjito aku dan Sukaharjito memiliki sifat sama, saling diam dan terkurung, sukar sekali untuk sampai pada taraf keakraban keluarga. Berkali-kali aku ingin membukakan hatiku kepadanya tapi aku tidak tahu dengan pasti apakah itu merupakan hal yang menyelesaikan karena sebenarnya aku menakutkan tanggapan terlalu keras daripadanya, jantungnya masih tahap perbaikan, perasaan-perasaan yang mengejutkan barangkali tidak baik akibatnya.
Pulang dari tempat itu aku masuk kedalam opelet, hamper tidak bisa aku menahan air mata yang mendesak-desak hendak keluar dari pelupuk . Kubujuk-bujuk sendiri hatiku bahwa laki-laki seperti Sukaharjito tidak ada artinya. Tidak memiliki keberanian buat menghadapi sesuatu yang pasti, karena menggauli dua gadis sekaligus tanpa bisa berterus terang untuk meninggalkan aku baik-baik. Aku ingat waktu kepada bagiannya dan dan lingkungan istana selalu menyindirnya karena bergaul denganku. Gadis Indo yang tidak bertentuan kebangsaannya tetapi kabar demikian hanya diucapkan selintas saja. Sukaharjito tahu bahwa adik-adiknya masih menghubungiku, meminta ini atau itu jika aku pergi keluar negeri tentulah itu seizin orang tuanya. Marjeho memberi tahu bahwa sejak kurang lebih enam bulan pergaulan Sukaharjito dengan gadis itu seperti disahkan oleh lingkungan istana. Memang kira-kira mulai waktu itulah dia semakinjarang dating kerajawali dan sering melupakan janjinya membawaku keluar. Dengan berbagai alsan dia berhasil mengelabui mataku yang terlalu mempercayainya. Dia rendah, dia berkata kepada seorang ajudan “ Apakah arti kehadiranku disini ? aku hanyalah seorang gadis Indo yang tidak memiliki kedudukan maupun keluarga yang patut dibanggakan, Sukaharjito sendiri telah memilih mana yang paling menguntungkan dari kamu dua orang wanita, dengan hanya sakit hati aku menginsyafi betapa pengecutnya laki-laki yang kucintai itu, karena tidak mau berterus terang kepadaku. Sampai dirumah sore itu aku terus masuk kedalam kamar dan tidak keluar hingga keesokan harinya, semuanya nampak tidak berguna lagi bagiku karena masa depanku hancur, aku selalu berpikir ingin menghubungi Sukaharjito untuk bertanya kebenaran berita yang disampaikan kepadaku mengenai perkawinannya.
Kusebarkan berita mengenai diriku kemana-mana tetapi aku jadi malu karena memandangku dengan mata kasihan, mereka hanya ingin menolongmu keluar dari kunkungan pengalaman cinta pertama yang gagal. Aku lebih suka dibiarkan saja daripada selalu diperhatikan, dilayani, ditolong seperti anak-anak, kataku. Sekarang aku mengerti tantangan sama aku ketika mengatakan ingin bunh diri karena terlalu menderita dan menara, kau gila desis Lansih
“Benar! Kadang –kadang aku merasa tidak waras lagi, ingin tiba –tiba membuka pintu pesawat yang sedang terbang, lalu menjatuhkan diri kebumi, kalau melihat pisau atau barang tajam lain, ingin mengambilnya lalu menancapakannya kedalam perutku. Tapi pikiran keagamaanku masih kuat, bunuh diri hanya memikirkannya saja dan dianggap oleh Tuhan semua itu salah.
Apa gunanya hidup buat seorang perempuan jika tidak sampai pada pengalaman perkawinan memiliki keluarga? Tiba-tiba aku tidak bisa lagi menahan air mataku, tersendan suaraku tersekat ditenggorokanku. Elisa lembut dan perlahan aku dipanggil sama temanku mendekat dan mencium dahiku.
Perkawinan bukan satu-satunya tujuan dalam hidup masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna mengimbangi jiwa. Oleh karenanya ceita manusia tidak berakhir hanya pada perkawinan.
Tak seorangpun dirumah atau dilingkungan kerja mengetahui bahwa sejak hamper sebulan yang lalu aku diam-diam mencatatkan nama keperwakilan Belanda guna mendapat visa dan karcis pesawat terbang keluar negeri dari Indonesia. Umurku mencapai kedewasaan yang berarti bebas dari tanggungan orang tua atau wali semua surat yang diperlukan dapat kusiapkan , semuanya dengan perlahan dan diam-diam, karena aku tidak mengkehendaki orang-orang sekelilingku menduga keberangkatanku.
Aku memberanikan diri untuk pergi ke perwakilan itu, baik dan buruknya kusadari serta kutimbangkan masak-masak. Terpengaruh olehp pergaulan dengan Lansih aku mengerti dan insyaf tidak mau lagi berbuat sesuatu dibawah pengaruh keputusan yang bodoh. Berangkat kenegeri Belanda itulah jalan satu-satunya yang terbaik bagiku Sukaharjito menjadi sebab yang pertama. Hidupku sedih, hidupku kuanggap tanpa tujuan, pemuda –pemuda yang dahulu mendekati aku telah terlanjur kusisihkan kini tak seorangpun muncul dan mendekati hatiku lagi. Seandainya salah seorang pemuda yang dipenerbagan masih memperlihatkan perhatiannya terhadapku, akupun tidak akan gampang menerimanya. Aku menjadi kurang percaya kepada laki-laki,mereka semua kucurigai terlalu membisu atau sebaliknya terlalu memberi isyarat tertariknya kepada kami pihak perempuan. Hamper kukatakan mengerikan bagiku, bagaimana caraku menjabarkan kepergianku tersebut kepada Talib. Dia boleh dikatakan telah sehat dan kuat, tenggelam dalam kesibukannya melukis dan membaca.
Ketika pesawat mulai menyusuri landasan, tabir gerimis merupakan selubung yang menyesatkan mengetuk-ngetuk seluruh badan pesawat , langit kelihatan sedih, didalam udara dingin semakin mengigatkan buruknya cuaca diluar sewaktu naik keudara ditempat dudukku kurasakan kami seperti maju melawan tumpahan air dari angkasa. Hampi saja kami semua yang ada dipesawat itu meninggal karena mesinnya rusak, tetapi Tuhan masih menolong kami semua, dan akhirnya kami dalam pesawat tersebut selamat dan hanya luka-luka sedikit.
Setelah sampai diBelanda, kejelaskan sebab-sebabnya aku tidak mengabari keberangkatanku kepada teman-teman dilingkunganku. Dan seorang teman bertanya kepadaku” kenapa kamu meninggalkan Indonesia. Aku sudah tidak mau lagi pergi ke Indonesia, dan aku akan tinggal di Belanda ini selamanya.