Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pembelajaran, dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Depdiknas , 2004). Kurikulum 2004 yang merupakan perubahan dari kurikulum sebelumnya, karena kurikulum 1994 dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, selanjutnya dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Isi KBK lebih mengedepankan kompetensi peserta didik agar setelah lulus dari pendidikan dasar, peserta didik memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjut-nya atau terjun ke dunia kerja.

Dalam rangka pelaksanaan KBK ini, Dirjen Dikdasmen menerbitkan Buku Pedoman Pengembangan Silabus sebagai acuan dan untuk membantu sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaian. Setiap silabus mata mata pelajaran mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator (rumusan tujuan pembelajaran), materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sumber bahan pelajaran. Standar kompetensi adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam suatu mata pelajaran, sedangkan kompetensi dasar adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh siswa (Depdiknas, 2004).

Dalam waktu dua tahun, sosialisasi KBK dan Sistem Penialainnya memang belum cukup. Kebingungan dan kegamangan masih tampak dirasakan oleh guru dan kelompok MGMP tentang KBK dan Sistem Penilaiannya. Keadaan ini makin “diperparah” dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. Namun kalau diamati, antara KBK dan KTSP perbedaannya tidak terlalu jauh, justru KTSP lebih sederhana dan memberikan keleluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar dan mengajar. Visi Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KSTP) masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Di bawah ini adalah contoh perbedaan spesifik antara KBK dan KTSP yang dijabarkan dalam silabus:

Di bawah ini akan diuraikan tentang perbedaan sistem evaluasi kurikulum sebelum KBK, KBK, KSTP, kelebihan, dan kekurangan masing-masing sistem penilaian kurikulum tersebut:
ASPEK KURIKULUM 1994 KBK KSTP
Penilaian 1. Terpadu, hanya ada satu nilai matpel bahasa Indonesia.
2. Nilai proses tidak menentukan hasil akhir.
3. Nilai akhir berupa RTUH dan NU menjadi penentu naik/tidak naik
4. Nilai mati adalah 5 ke bawah.
5. Remedial dilakukan untuk se- luruh materi.
6. Soal dalam bentuk PG dan jawaban singkat masih dominan.
7. Pembuatan skor nilai relatif mudah dan sederhana.
8. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini. 1. Nilai kebahasaan mencakup lima KD.
2. Nilai sastra mencakup lima KD.
3. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
4. Ditetapkan SKBM.
5. Remedial dilakukan pada kom-petensi yang kurang saja.
6. Nilai tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah.
7. Diperlukan tabel penilaian proses.
8. Nilai praktik lebih dominan.
9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini. 1. Nilai kebahasaan dan sastra tidak dipisah-pisah.
2. Nilai proses dan nilai akhir sama pentingnya.
3. Ditetapkan SKBM.
4. Remedial dilakukan pada kompetensi yang kurang saja.
5. Nilai tugas ter- struktur dan tugas tidak terstruktur dapat dijadikan sebagai nilai tambah
6. Nilai pengembang- an diri dan pengembangan potensi menjadi penentu naik/ tidaknya siswa.
7. Diperlukan tabel penilaian proses.
8. Nilai praktik lebih dominan.
9. Pembuatan skor nilai relatif lebih kompleks.
10. Analisis butir soal merupakan bagian akhir dari kegiatan evaluasi ini.
Kelebihan 1. Tidak rumit
2. Perencanaan target materi dan waktu ulangan mudah dan jelas.
3. Nilai pengamatan perilaku siswa jelas dan tinggal memilih A, B, C, atau D. 1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
3. Nilai pembiasaan dirumuskan dengan kalimat- kalimat yang jelas dan operasional. 1. Kompetensi dasar yang dinilai jelas.
2. Semua kegiatan pembelajaran ada nilai proses.
3. Tidak ada ujian blok, yang ada adalah pekan ulangan.
Kekurangan 1. Nilai belum mencerminkan kemampuan keterampilan berbahasa.
2. Remedial belum menjamin ketuntasan belajar. 1. Rumit
2. Menyita waktu
3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
4. Membingungkan
5. Penilaian pengamatan terbatas. 1. Rumit
2. Menyita waktu
3. Tidak semua kompetensi dapat diuji secara tertulis
4. Membingungkan
5. Penilaian pegembangan diri dan potensi terbatas.

KESIMPULAN

Dalam waktu dua tahun, sosialisasi KBK dan Sistem Penialainnya memang belum cukup. Kebingungan dan kegamangan masih tampak dirasakan oleh guru dan kelompok MGMP tentang KBK dan Sistem Penilaiannya. Keadaan ini makin “diperparah” dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. Namun kalau diamati, antara KBK dan KTSP perbedaannya tidak terlalu jauh, justru KTSP lebih sederhana dan memberikan keleluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar dan mengajar. Visi Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KSTP) masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Di bawah ini adalah contoh perbedaan spesifik antara KBK dan KTSP yang dijabarkan dalam silabus:

About these ads